Istiqomah dalam ikhtiar jemput rezeki 7 Januari 2012
Posted by vikikurdiansyah in cerita, hikmah, inspirasi, motivation, tauziyah.add a comment
Setiap menuju ke Masjid Salman ITB untuk shalat Jumat, saya selalu melihat seorang bapak tua yang duduk terpekur di depan dagangannya. Dia menjual kertas amplop yang sudah dibungkus di dalam plastik. Sepintas barang jualannya itu terasa “aneh” di antara pedagang lain yang memenuhi pasar kaget di seputaran Jalan Ganesha setiap hari Jumat. Pedagang di pasar kaget umumnya berjualan makanan, pakaian, DVD bajakan, barang mainan anak, sepatu dan barang-barang asesori lainnya. Tentu agak aneh dia “nyempil” sendiri menjual amplop, barang yang tidak terlalu dibutuhkan pada zaman yang serba elektronis seperti saat ini. Masa kejayaan pengiriman surat secara konvensional sudah berlalu, namun bapak itu tetap menjual amplop. Mungkin bapak itu tidak mengikuti perkembangan zaman, apalagi perkembangan teknologi informasi yang serba cepat dan instan, sehingga dia pikir masih ada orang yang membutuhkan amplop untuk berkirim surat.
Kehadiran bapak tua dengan dagangannya yang tidak laku-laku itu menimbulkan rasa iba. Siapa sih yang mau membeli amplopnya itu? Tidak satupun orang yang lewat menuju masjid tertarik untuk membelinya. Lalu lalang orang yang bergegas menuju masjid Salman seolah tidak mempedulikan kehadiran bapak tua itu.
Kemarin ketika hendak shalat Jumat di Salman saya melihat bapak tua itu lagi sedang duduk terpekur. Saya sudah berjanji akan membeli amplopnya itu usai shalat, meskipun sebenarnya saya tidak terlalu membutuhkan benda tersebut. Yach, sekedar ingin membantu bapak itu melariskan dagangannya. Seusai shalat Jumat dan hendak kembali ke kantor, saya menghampiri bapak tadi. Saya tanya berapa harga amplopnya dalam satu bungkusa plastik itu. “Seribu”, jawabnya dengan suara lirih. Oh Tuhan, harga sebungkus amplop yang isinnya sepuluh lembar itu hanya seribu rupiah? Uang sebesar itu hanya cukup untuk membeli dua gorengan bala-bala pada pedagang gorengan di dekatnya. Uang seribu rupiah yang tidak terlalu berarti bagi kita, tetapi bagi bapak tua itu sangatlah berarti. Saya tercekat dan berusaha menahan air mata keharuan mendengar harga yang sangat murah itu. “Saya beli ya pak, sepuluh bungkus”, kata saya.
Bapak itu terlihat gembira karena saya membeli amplopnya dalam jumlah banyak. Dia memasukkan sepuluh bungkus amplop yang isinya sepuluh lembar per bungkusnya ke dalam bekas kotak amplop. Tangannya terlihat bergetar ketika memasukkan bungkusan amplop ke dalam kotak.
Saya bertanya kembali kenapa dia menjual amplop semurah itu. Padahal kalau kita membeli amplop di warung tidak mungkin dapat seratus rupiah satu. Dengan uang seribu mungkin hanya dapat lima buah amplop. Bapak itu menunjukkan kepada saya lembar kwitansi pembelian amplop di toko grosir. Tertulis di kwitansi itu nota pembelian 10 bungkus amplop surat senilai Rp7500. “Bapak cuma ambil sedikit”, lirihnya. Jadi, dia hanya mengambil keuntungan Rp250 untuk satu bungkus amplop yang isinya 10 lembar itu. Saya jadi terharu mendengar jawaban jujur si bapak tua. Jika pedagang nakal ‘menipu’ harga dengan menaikkan harga jual sehingga keuntungan berlipat-lipat, bapak tua itu hanya mengambil keuntungan yang tidak seberapa. Andaipun terjual sepuluh bungkus amplop saja keuntungannya tidak sampai untuk membeli nasi bungkus di pinggir jalan. Siapalah orang yang mau membeli amplop banyak-banyak pada zaman sekarang? Dalam sehari belum tentu laku sepuluh bungkus saja, apalagi untuk dua puluh bungkus amplop agar dapat membeli nasi.
Setelah selesai saya bayar Rp10.000 untuk sepuluh bungkus amplop, saya kembali menuju kantor. Tidak lupa saya selipkan sedikit uang lebih buat bapak tua itu untuk membeli makan siang. Si bapak tua menerima uang itu dengan tangan bergetar sambil mengucapkan terima kasih dengan suara hampir menangis. Saya segera bergegas pergi meninggalkannya karena mata ini sudah tidak tahan untuk meluruhkan air mata. Sambil berjalan saya teringat status seorang teman di facebook yang bunyinya begini: “bapak-bapak tua menjajakan barang dagangan yang tak laku-laku, ibu-ibu tua yang duduk tepekur di depan warungnya yang selalu sepi. Carilah alasan-alasan untuk membeli barang-barang dari mereka, meski kita tidak membutuhkannya saat ini. Jangan selalu beli barang di mal-mal dan toko-toko yang nyaman dan lengkap..”.
Si bapak tua penjual amplop adalah salah satu dari mereka, yaitu para pedagang kaki lima yang barangnya tidak laku-laku. Cara paling mudah dan sederhana untuk membantu mereka adalah bukan memberi mereka uang, tetapi belilah jualan mereka atau pakailah jasa mereka. Meskipun barang-barang yang dijual oleh mereka sedikit lebih mahal daripada harga di mal dan toko, tetapi dengan membeli dagangan mereka insya Allah lebih banyak barokahnya, karena secara tidak langsung kita telah membantu kelangsungan usaha dan hidup mereka.
Dalam pandangan saya bapak tua itu lebih terhormat daripada pengemis yang berkeliaran di masjid Salman, meminta-minta kepada orang yang lewat. Para pengemis itu mengerahkan anak-anak untuk memancing iba para pejalan kaki. Tetapi si bapak tua tidak mau mengemis, ia tetap kukuh berjualan amplop yang keuntungannya tidak seberapa itu.
Di kantor saya amati lagi bungkusan amplop yang saya beli dari si bapak tua tadi. Mungkin benar saya tidak terlalu membutuhkan amplop surat itu saat ini, tetapi uang sepuluh ribu yang saya keluarkan tadi sangat dibutuhkan si bapak tua.
Kotak amplop yang berisi 10 bungkus amplop tadi saya simpan di sudut meja kerja. Siapa tahu nanti saya akan memerlukannya. Mungkin pada hari Jumat pekan-pekan selanjutnya saya akan melihat si bapak tua berjualan kembali di sana, duduk melamun di depan dagangannya yang tak laku-laku.
Sumber : Group FB SMAN 1 Probolinggo
Karena Aku Mencintaimu, Kamu Cantik 27 Desember 2011
Posted by vikikurdiansyah in motivation.add a comment
Di sudut gedung gramedia, aku terdiam sejenak. Mematung dan membeku menikmati tulisan dari seorang sastrawan muslim (aku lupa namanya). Meski hanya sekilas membaca, ada kalimat yang menyentuh qolbuku. Kalimat yang sederhana yang memiliki makna yang amat dalam.
“Bukan karena kamu cantik, aku mencintaimu. Namun karena aku mencintaimu, kamu cantik”.
Mungkin berbagai persepsi akan muncul bila membaca dua kalimat di atas. Bagiku, kalimat itu menyadarkanku kembali akan makna cantik. Bagiku, kecantikan bisa dilihat dari berbagai sisi. Fisik, hati, pikiran dan akhlaqnya. Terlebih dan terpenting lagi adalah kecantikan iman, islam dan ihsannya.
Kecantikan fisik memang menjadi salah satu sumber kebahagiaan. Maka pilihlah wanita yang menurutmu menyenangkan dan menentramkan bila dipandang. Senyumannya pun menyejukkan.
Bagi yang telah menikah maka bersyukurlah terhadap wanita cantik yang Alloh anugerahkan dan bersabarlah terhadap wanita cantik yang ada di sekelilingmu yang bukan hakmu. Untuk yang belum menikah, jemputlah bidadari yang cantik. Terutama yang cantik iman, islam dan ihsannya. Kalau dipertemukan dengan bidadari yang cantiknya komplit, alhamdulillah ya… ^_^
Islam-mu cuma KTP 1 Oktober 2011
Posted by vikikurdiansyah in motivation.add a comment
Tidak sengaja menggerakkan scroll mouse sambil menatap layar laptop. Melihat berbagai aktivitas di facebook. Tiba-tiba mataku tertuju pada satu account teman lama. Nama account mengisyaratkan laki-laki. Namun fotonya perempuan. Ku amati sejenak ada foto dan comment yang membuatku tertarik.
Di foto itu ada laki-laki dan perempuan yang pipinya saling menempel. Laki-laki dengan wajah yang lugu seolah tidak punya dosa dan wanita yang tidak berjilbab dengan pakaian yang minim alias ketat. Di bawahnya ada beberapa komenter dari temannya dan dari laki-laki yang punya account FB tersebut.
Teman : “Fotomu kok gitu. Haram lho itu. Bukan mahrom. Ndang tobat”.
Pemilik account : “Iyo… kiamat sudah dekat ya, hehe… Gak papa itu foto kan diambil pada saat tidak puasa. Jadi masih halalan toyyibah (dengan nada bercanda).
Teman : “Halal…??? (dengan nada heran). Memandang saja haram apalagi pipi sudah saling nempel”.
Pemilik account : “hahaha… haram ya, hehe… kan gak papa itu fotonya pas sudah maghrib. Jadi sudah boleh”
Ironis memang. Lebih ironis lagi laki-laki pada cerita di atas adalah seorang pendidik (guru). Hatiku tersayat dan pikiranku berontak. Pendidik masa depan generasi penerus bangsa berakhlak bejat. Bagaimana muridnya nanti.
Banyak umat islam yang tidak mengenal islam sebagai pedoman hidup. Hanya dijadikan sebagai pelengkap biodata di KTP.
Sholat bukan “oleh-oleh” isra’ dan mi’raj 22 Juni 2011
Posted by vikikurdiansyah in hikmah, islam, motivation, tauziyah.add a comment
Kata sholat, isra dan mi’raj sudah sangat familiar didengungkan di gendang telinga kaum muslim. Setiap tahun pun dirayakan. Bahkan saat masih di Taman Kanak-kanak pun definisi dari ketiganya pun sudah sering diperdengarkan.
Dalam sirohnya, Rosul saw harus melakukan perjalanan yang sangat amat jauh dalam waktu singkat. Dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqso dan dilanjutkan ke Sidrotul Muntaha dalam satu malam. Malaikat Jibril hanya diizinkan mengantar Rosul saw mulai dari Masjidil Haram hingga langit ketujuh. Selebihnya Jibril tidak diperkenankan masuk ke area di atasnya. Hanya Rosul saw yang izinkan untuk bertemu Alloh secara langsung. Saat Rosulullah melakukan mi’raj, beliau diperlihatkan oleh Alloh tentang keindahan surga dan kepedihan neraka.
Momen yang paling fenomenal saat mi’roj adalah dititahkannya perintah sholat secara langsung. Ini merupakan satu-satunya perintah ibadah yang dititahkan oleh Alloh secara langsung kepada Rosul saw. Sang Jibril pun yang biasanya menyampaikan wahyu kepada Rosul saw tidak diberi wewenang oleh Alloh untuk menyampaikan perintah shalat. Dari peristiwa isra dan mi’raj menandakan bahwa sholat adalah perintah yang sangat penting dan agung.
Sholat : amanah terbesar dan parameter kemusliman dan keberimanan.
Sholat bukan sekedar mengerjakan sebagai penggugur kewajiban. Sholat bukan hanya sekedar gerakan fisik. Sholat tidak seperti ‘ayam yang mematok-matok beras’. Namun, sholat merupakan kolaborasi aktivitas hati, jiwa, pikiran, lidah hingga fisik. Sholat harus dilaksanakan dengan tenang. Bahasa kerennya tuma’ninah.
Amal yang pertama kali dihisab ketika ruh kita tidak lagi menempel di jasad adalah amal sholat. Yang membedakan kualitas muslim satu dengan muslim yang lain terletak dari bagaimana dia mendirikan sholat. Tidak sekedar mengerjakan.
Kualitas sholat pun menentukan kualitas akhlaq seseorang. Sholat mencegah dari perbuatan keji dan munkar. Begitu kata sebuah firman Alloh di al qur’an. Namun sepertinya firman tersebut tidak sepenuhnya muncul ke permukaan. Banyak kaum muslim yang sholat, tapi banyak juga yang berbuat maksiat. Minum miras, narkoba, selingkuh, perampokan hingga pembunuhan. Yang paling ngeri adalah perilaku korupsi yang dilakukan oleh sebagian kaum muslim yang ada di pemerintahan. Mungkin mereka dari sisi fisik melakukan sholat, tapi dari hati, jiwa dan pikirannya tidak ikut sholat.
Belum lagi persoalan melalaikan sholat. Ini yang sering kebanyakan saya temui. Sholat ntar aja kalo pas injury time. Ingin masuk surga, tapi sholat kok dilalaikan. Orang yang lalai aja masuk neraka. Apalagi yang tidak sholat.
***
Kalau ingin dievaluasi komitmen untuk beriman dan berislam, masih banyak kekurangan. Banyak sekali. Bertanyalah pada hati kecil kita yang paling dalam. Sebenarnya niat gak sih kita berislam. Bilang niat tapi kok gak terbukti. Apa yang salah dari niat kita. Mungkin benar adanya salah satu firman Alloh di surat Al Ahzab yang menyebutkan bahwa manusia adalah makhluk yang bodoh dan dzolim. Gunung dan lautan menolak amanah yang Alloh berikan. Namun manusia menerima begitu saja.
Mari kita bersama-sama memperbaiki dan memperbanyak ilmu dan meluruskan niat. Mari kita mendirikan sholat. Bukan mengerjakan sholat. Perbaiki diri kita dan orang-orang di sekitar kita untuk membuktikan bahwa sholat dapat mencegah perbuatan keji dan munkar. Mati fastabiqul khoirot.
Tetap Bertumbuh di Tengah Kerikil Tajam 13 Mei 2011
Posted by vikikurdiansyah in inspirasi, motivation, tauziyah.1 comment so far
Hidup tidak akan lengkap tanpa ada kerikil-kerikil tajam yang menghadang
Terkadang kumpulan kerikil itu berubah menjadi batu yang besar yang siap menghancurkan kita
Cemoohan, kritikan dan komentar yang tidak sedap
Perkataan yang membuat telinga panas
Orang yang tidak puas dengan kita
Iri, dengki dan tidak setuju
Bahkan ada yang tidak menyukai kita
Dan berbagai kerikil, batu yang tajam lainnya
Wahai sahabat ku yang baik
Kita tidak mungkin bisa menyenangkan dan memuaskan semua orang di sekeliling kita
Pasti akan ada orang-orang yang menjelma menjadi kerikil dan batu tajam
Maka …
Jangan jadikan semua itu membuat kita rapuh dan tak berharga
Jangan izinkan hal itu menghancurkan hari esok kita yang sudah tersusun rapi
Fokuslah menjadi pribadi yang lebih baik
Bukan pribadi yang kehidupannya diatur oleh orang lain dan apapun yang ada di sekitar kita
Hiduplah dengan hatimu yang semakin membaik dan membaikkan
Raihlah syukur dan kedamaian hati
