01.19.08
Kesaksian Warga Bengkalis yang Mati Suri dalam Temu Alumni ESQ
‘Menyaksikan Orang Disiksa dan Ingin Kembali ke Dunia’.
Pengalaman mati suri seperti yang dialami Aslina, telah pula dirasakan banyak orang. Seorang peneliti dan meraih gelar doktor filsafat dari Universitas Virginia Dr Raymond A Moody pernah meneliti fenomena ini. Hasilnya orang mati suri rata-rata memiliki pengalaman yang hampir sama. Masuk lorong waktu dan ingin dikembalikan ke dunia.
Catatan ini dilengkapi pula dengan penjelasan instruktur ESQ Legisan Sugimin yang mengutip Al-Quran yang menjelaskan orang yang mati itu ingin dikembalikan ke dunia, serta penelusuran melalui internet tentang Dr Raymond. Bagi pembaca yang ingin mengetahui perihal Dr Raymond dapat membuka situs www.lifeafterlife. com dan hasil penelitian Raymond tentang mati suri dapat dibaca di buku Life After Life.
Aslina adalah warga Bengkalis yang mati suri 24 Agustus 2006 lalu. Gadis berusia sekitar 25 tahun itu memberikan kesaksian saat nyawanya dicabut dan apa yang disaksikan ruhnya saat mati suri.
Sebelum Aslina memberi kesaksian, pamannya Rustam Effendi memberikan penjelasan pembuka. Aslina berasal dari keluarga sederhana, ia telah yatim. Sejak kecil cobaan telah datang pada dirinya. Pada umur tujuh tahun tubuhnya terbakar api sehingga harus menjalani dua kali operasi. Menjelang usia SMA ia termakan racun. Tersebab itu ia menderita selama tiga tahun. Pada umur 20 tahun ia terkena gondok (hipertiroid) .Gondok tersebut menyebabkan beberapa kerusakan pada jantung dan matanya. Karena penyakit gondok itu maka Jumat, 24 Agustus 2006 Aslina menjalani check-up atas gondoknya di Rumah Sakit Mahkota Medical Center (MMC) Melaka Malaysia. Hasil pemeriksaan menyatakan penyakitnya di ambang batas sehingga belum bisa dioperasi.
”Kalau dioperasi maka akan terjadi pendarahan,’ ‘ jelas Rustam. Oleh karena itu Aslina hanya diberi obat. Namun kondisinya tetap lemah. Malamnya Aslina gelisah luar biasa, dan terpaksa pamannya membawa Aslina kembali ke Mahkota sekitar pukul 12 malam itu. Ia dimasukkan ke unit gawat darurat (UGD), saat itu detak jantungnya dan napasnya sesak.Lalu ia dibawa ke luar UGD masuk ke ruang perawatan. ”Aslina seperti orang ombak (menjelang sakratulmaut, red). Lalu saya ajarkan kalimat thoyyibah dan syahadat. Setelah itu dalam pandangan saya Aslina menghembuskan nafas terakhir, ” ungkapnya. Usai Rustam memberi pengantar, lalu Aslina memberikan kesaksiaanya.
”Mati adalah pasti. Kita ini calon-calon mayat, calon penghuni kubur,” begitu ia mengawali kesaksiaanya setelah meminta seluruh hadirin yang memenuhi Grand Ball Room Hotel Mutiara Merdeka Pekanbaru tersebut membacakan shalawat untuk Nabi Muhammad SAW. Tak lupa ia juga menasehati jamaah untuk memantapkan iman, amal dan ketakwaan sebelum mati datang. ”Saya telah merasakan mati,” ujar anak yatim itu. Hadirin terpaku mendengar kesaksian itu. Sungguh, lanjutya, terlalu sakit mati itu.
Diceritakan, rasa sakit ketika nyawa dicabut itu seperti sakitnya kulit hewan ditarik dari daging, dikoyak. Bahkan lebih sakit lagi. ”Terasa malaikat mencabut (nyawa, red) dari kaki kanan saya,” tambahnya. Di saat itu ia sempat diajarkan oleh pamannya kalimat thoyibah. ”Saat di ujung napas, saya berzikir,” ujarnya. ”Sungguh sakitnya, Pak, Bu,” ulangnya di hadapan lebih dari 300 alumni ESQ Pekanbaru.
Diungkapkan, ketika ruhnya telah tercabut dari jasad, ia menyaksikan di sekelilingnya ada dokter, pamannya dan ia juga melihat jasadnya yang terbujur. Setelah itu datang dua malaikat serba putih mengucapkan Assalaimualaikum kepada ruh Aslina. ”Malaikat itu besar, kalau memanggil, jantung rasanya mau copot, gemetar,” ujar Aslina mencerita pengalaman matinya. Lalu malaikat itu bertanya: ‘’siapa Tuhanmu, apa agamamu, dimana
kiblatmu dan siapa nama orangtuamu. ” Ruh Aslina menjawab semua pertanyaan itu dengan lancar. Lalu ia dibawa ke alam barzah. ”Tak ada teman kecuali amal,” tambah Aslina yang Ahad malam itu berpakaian serba hijau.
Seperti pengakuan pamannya, Aslina bukan seorang pendakwah, tapi malam itu ia tampil memberikan kesaksian bagaikan seorang muballighah. Di alam barzah ia melihat seseorang ditemani oleh sosok yang mukanya berkudis, badan berbulu dan mengeluarkan bau busuk. Mungkin sosok itulah adalah amal buruk dari orang tersebut.
Aslina melanjutkan. ”Bapak, Ibu, ingatlah mati,” sekali lagi ia mengajak hadirin untuk bertaubat dan beramal sebelum ajal menjemput. Di alam barzah, ia melanjutkan kesaksiannya, ruh Aslina dipimpin oleh dua orang malaikat. Saat itu ia ingin sekali berjumpa dengan ayahnya. Lalu ia memanggil malaikat itu dengan ”Ayah”. ”Wahai ayah bisakah saya bertemu dengan ayah saya,” tanyanya. Lalu muncullah satu sosok. Ruh Aslina tak mengenal sosok yang berusia antara 17-20 tahun itu. Sebab ayahnya meninggal
saat berusia 65 tahun. Ternyata memang benar, sosok muda itu adalah ayahnya. Ruh Aslina mengucapkan salam ke ayahnya dan berkata: ”Wahai ayah, janji saya telah sampai.” Mendengar itu ayah saya saya menangis. Lalu ayahnya berkata kepada Aslina. ”Pulanglah ke rumah, kasihan adik-adikmu. ” ruh Aslina pun menjawab. ”Saya tak bisa pulang, karena janji telah sampai”.
Usai menceritakan dialog itu, Aslina mengingatkan kembali kepada hadirin bahwa alam barzah dan akhirat itu benar-benar ada. ”Alam barzah, akhirat, surga dan neraka itu betul ada. Akhirat adalah kekal,” ujarnya bak seorang pendakwah.
Setelah dialog antara ruh Aslina dan ayahnya. Ayahnya tersebut menunduk. Lalu dua malaikat memimpinnya kembali, ia bertemu dengan perempuan yang beramal shaleh yang mukanya bercahaya dan wangi. Lalu ruh Aslina dibawa kursi yang empuk dan didudukkan di kursi tersebut, disebelahnya terdapat seorang perempuan yang menutup aurat, wajahnya cantik. Ruh Aslina bertanya kepada perempuan itu. ”Siapa kamu?” lalu perempuan itu menjawab.”Akulah (amal) kamu.”
Selanjutnya ia dibawa bersama dua malaikat dan amalnya berjalan menelurusi lorong waktu melihat penderitaan manusia yang disiksa. Di sana ia melihat seorang laki-laki yang memikul besi seberat 500 ton, tangannya dirantai ke bahu, pakaiannya koyak-koyak dan baunya menjijikkan. Ruh Aslina bertanya kepada amalnya. ”Siapa manusia ini?” Amal Aslina menjawab orang tersebut ketika hidupnya suka membunuh orang.
Lalu dilihatnya orang yang yang kulit dan dagingnya lepas. Ruh Aslina bertanya lagi ke amalnya tentang orang tersebut. Amalnya mengatakan bahwa manusia tersebut tidak pernah shalat. Selanjutnya tampak pula oleh ruh Aslina manusia yang dihujamkan besi ke tubuhnya. Ternyata orang itu adalah manusia yang suka berzina. Tampak juga orang saling bunuh, manusia itu ketika hidup suka bertengkar dan mengancam orang lain.
Dilihatkan juga pada ruh Aslina, orang yang ditusuk dengan 80 tusukan, setiap tusukan terdapat 80 mata pisau yang tembus ke dadanya, lalu berlumuran darah, orang tersebut menjerit dan tidak ada yang menolongnya. Ruh Aslina bertanya pada amalnya. Dan dijawab orang tersebut adalah orang juga suka membunuh. Ada pula orang yang dihempaskan ke tanah lalu dibunuh. Orang tersebut adalah anak yang durhaka dan tidak mau memelihara orang tuanya ketika di dunia.
Perjalanan menelusuri lorong waktu terus berlanjut. Sampailah ruh Aslina di malam yang gelap, kelam dan sangat pekat sehingga dua malaikat dan amalnya yang ada disisinya tak tampak. Tiba-tiba muncul suara orang mengucap : Subhanallah, Alhamdulillah dan Allahu Akbar. Tiba-tiba ada yang mengalungkan sesuatu di lehernya. Kalungan itu ternyata tasbih yang memiliki biji 99 butir.
Perjalanan berlanjut. Ia nampak tepak tembaga yang sisi-sisinya mengeluarkan cahaya, di belakang tepak itu terdapat gambar kakbah. Di dalam tepak terdapat batangan emas. Ruh Aslina bertanya pada amalnya tentang tepak itu. Amalnya menjawab tepak tersebut adalah husnul khatimah. (Husnul khatimah secara literlek berarti akhir yang baik. Yakni keadaan dimana manusia pada akhir hayatnya dalam keadaan (berbuat) baik,red).
Selanjutnya ruh Aslina mendengarkan azan seperti azan di Mekkah. Ia pun mengatakan kepada amalnya. ”Saya mau shalat.” Lalu dua malaikat yang memimpinnya melepaskan tangan ruh Aslina. ”Saya pun bertayamum, saya shalat seperti orang-orang di dunia shalat,” ungkap Aslina. Selanjutnya ia kembali dipimpin untuk melihat Masjid Nabawi. Lalu diperlihatkan pula kepada ruh Aslina, makam Nabi Muhammad SAW. Dimakam tersebut batangan-batangan emas di dalam tepak ”husnul khatimah” itu mengeluarkan cahaya terang. Berikutnya ia melihat cahaya seperti matahari tapi agak kecil. Cahaya itu
pun bicara kepada ruh Aslina. ”Tolong kau sampaikan kepada umat, untuk bersujud di hadapan Allah.”
Selanjutnya ruh Aslina menyaksikan miliaran manusia dari berbagai abad berkumpul di satu lapangan yang sangat luas. Ruh Aslina hanya berjarak sekitar lima meter dari kumpulan manusia itu. Kumpulan manusia itu berkata. ”Cepatlah kiamat, aku tak tahan lagi di sini Ya Allah.” Manusia-manusia itu juga memohon. ”Tolong kembalikan aku ke dunia, aku mau beramal.” Begitulah di antara cerita Aslina terhadap apa yang dilihat ruhnya saat ia mati suri. Dalam kesaksiaannya ia senantiasa mengajak hadirin yang datang pada pertemuan alumni ESQ itu untuk bertaubat dan beramal shaleh serta tidak melanggar aturan Allah. Setelah kesaksian Aslina, instruktur Pelatihan ESQ Legisan Sugimin yang telah mendapat lisensi dari Ary Ginanjar (pengarang buku sekaligus penemu metode Pelatihan ESQ) menjelaskan bahwa fenomena mati suri dan apa yang disaksikan oleh orang yang mati suri pernah diteliti ilmuan Barat. Legisan mengemukakan pula, mungkin di antara alumni ESQ yang hadir pada Ahad (24/9) malam itu ada yang tidak percaya atau ragu terhadap kesaksian Aslina. Tapi yang jelas, lanjutnya, rata-rata orang yang mati suri merasakan dan melihat hal yang hampir sama.
”Apa yang disampaikan Aslina, mungkin bukti yang ditunjukkan Allah kepada kita semua, ” ujarnya.Legisan menjelaskan penelitian oleh Dr Raymond A Moody Jr tentang mati suri. Raymond mengemukakan orang mati suri itu dibawa masuk ke lorong waktu, di sana ia melihat rekaman seluruh apa yang telah ia lakukan selama hidupnya. Dan diakhir pengakuan orang mati suri itu berkata: ”Dan aku ingin agar aku dapat kembali dan membatalkan semuanya.”
Menanggapi kesaksian Aslina yang melihat orang-orang berteriak ingin dikembalikan ke dunia dan ingin beramal serta penelitian Raymond yang menyebutkan ”aku ingin agar aku dapat kembali dan membatalkan semuanya,” Legisan mengutip ayat Al-Quran Surat Al-Mu’muninun (23) ayat 99-100: Hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata:”Ya, Tuhanku kembalikanlah aku (ke dunia).”(99) . Agar aku berbuat amal yang saleh terhadap yang telah aku tinggalkan. Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada dinding sampai hari mereka dibangkitkan. (100).
Sebagai penguat dalil agar manusia bertaubat, dikutipkan juga Quran Surat Az-Zumar ayat 39: ”Dan kembalilah kamu kepada Tuhan-Mu, dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang azab kepadamu kemudian kamu tidak dapat ditolong (lagi).”
Usai pertemuan alumni itu, Aslina meminta nasehat dari Legisan. Intruktur ESQ itu menyarankan agar Aslina senatiasa berdakwah dan menyampaikan kesaksiaannya saat mati suri kepada masyarakat agar mereka bertaubat dan senantiasa mentaati perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Setelah acara, banyak di antara alumni yang bersimpati dan ingin membantu pengobatan sakit gondoknya. Para hadirinpun menyempat diri untuk berfoto bersama Aslina. Semoga pembaca dapat mengambil pelajaran dari kesaksiaan
tersebut.
NB : Bagikan cerita ini kepada semua orang, agar mereka mendapat hikmahnya dari cerita ini. Ternyata hidup ini hanya sementara, dan hanya amal serta hati yang bersih yang menuntun kita menuju jalan kehadapan Illahi.
01.17.08
10 kebiasaan yang dapat merusak otak
Otak adalah organ kita yang paling vital. Otak ini yang memberi nilai
lebih dibandingkan makhluk-makhluk lain.
Namun sering tanpa disadari, kita sendiri sering merusak otak kita. Apakah
itu ?
1. Tidak Sarapan Pagi
Mereka yang tidak mengkonsumsi sarapan pagi memiliki kadar gula darah yang
rendah, yang akibatnya suplai nutrisi ke otak menjadi kurang.
2. Makan Terlalu Banyak
Terlalu banyak makan, apalagi yang kadar lemaknya tinggi, dapat berakibat
mengerasnya pembuluh darah otak karena penimbunan lemak pada dinding dalam
pembuluh darah. Akibatnya kemampuan kerja otak akan menurun.
3. Merokok
Zat dalam rokok yang terhisap akan mengakibatkan penyusutan otak secara
cepat, serta dapat mengakibatkan penyakit Alzheimer.
4. Mengkonsumsi gula terlalu banyak
Konsumsi gula yang terlalu banyak akan menyebabkan terganggunya penyerapan
protein dan nutrisi, sehingga terjadi ketidakseimbangan gizi yang akan
mengganggu perkembangan otak
5. Polusi Udara
Otak adalah konsumen oksigen terbesar dalam tubuh manusia. Menghirup udara
yang berpolusi menurunkan suplai oksigen ke otak sehingga dapat menurunkan
efisiensi otak.
6. Kurang Tidur
Otak memerlukan tidur sebagai saat beristirahat dan memulihkan
kemampuannya. Kekurangan tidur dalam jangka waktu lama akan mempercepat
kerusakan sel-sel otak.
7. Menutup kepala saat tidur
Kebiasaan tidur dengan menutup kepala meningkatkan konsentrasi zat
karbondioksida dan menurunkan konsentrasi oksigen yang dapat menimbulkan
efek kerusakan pada otak.
8. Menggunakan pikiran saat sakit
Bekerja terlalu keras atau memaksakan untuk menggunakan pikiran kita saat
sedang sakit dapat menyebabkan berkurangnya efektifitas otak serta dapat
merusak otak.
9. Kurang menstimulasi pikiran
Berpikir adalah cara yang paling tepat untuk melatih otak kita. Kurangnya
stimulasi pada otak dapat menyebabkan mengkerutnya otak kita.
10. Jarang berkomunikasi
Komunikasi diperlukan sebagai salah satu sarana memacu kemampuan kerja
otak. Berkomunikasi secara intelektual dapat memicu efisiensi otak.
Jarangnya berkomunikasi akan menyebabkan kemampuan intelektual otak jadi
kurang terlatih.
DEMIKIAN SEMOGA BERMANFAAT
Lautan Indonesia Sumber Baterai Raksasa
sejak Thomas Alfa Edison untuk pertamakalinya menciptakan bola lampu, listrik merupakan penemuan yang dapat mengubah wajah dunia pada awal abad XX. Berbagai aspek kehidupan seolah tidak bisa lepas dari pwenggunaan energi listrik.
Dalam era modern ini kebutuhan listrik mengalami lonjakan yang sangat besar. Bahkan dapat dikatakan manusia sudah sangat tergantung dengan energi listrik. Padamnya aliran listrik, membuat akvititas masyarakat menjadi terganggu, arus lalulintas terganggu dan bahkan hubungan yang lebih luas antar negara juga dapat terpengaruh akibat padamnya listrik.
Persoalannya cadangan sumber energi yang sebagian besar menggunakan minyak bumi, jumlahnya semakin berkurang. Bahkan memunculkan kekhawatiran akan adanya krisis energi. Berbagai upaya dilakukan untuk mendapatkan sumber energi minyak bumi. Belakangn ini AS berencana menyerang Irak, salah satu alasannya adalah mencari sumber minyak bumi.
Untuk mengatasi berkurangnya minyak bumi sebagai sumber energi, mulai dikembangkan sumber energi alternatif seperti panas bumi, gelombang air laut, sinar matahari dan angin. Bahkan dalam dasa warsa ini juga digunakan energi nuklir untuk mendapatkan listrik.
Hanya saja dari berbagai sumber menyebutkan bahwa Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) dan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN), banyak menimbulkan pencemaran lingkungan. Seperti adanya Gas SOx yang dikenal sebagai sumber gangguan paru-paru dan penyakit pernafasan. Gas NOx yang bersama dengan gas SOx ditengarai penyebab fenomena hujan asam yang banyak terjadi di negara maju dan berkembang. Sedangkan kerugian yang ditimbulkan akibat PLTN antara lain, radiasi carbon 14 (C-14) dan gas radon yang terpancar dari uranium bagi pekerja di pertambangannya. radiasi gas Xenon atau Krypton, termasuk limbah nuklir yang harus mendapat penanganan khusus.
Untuk itu perlu dikembangkan sumber energi alternatif. Salah satu yang sampai saat ini belum banyak diteliti adalah energi air laut (bukan gelombangnya). Energi yang dihasilkan dari air laut memiliki keunggulan, seperti ramah lingkungan, dan tidak membutuhkan banyak dana.
Padahal Indonesia yang terletak di wilayah garis katulistiwa hampir sepanjang tahun mendapatkan sinar matahari, juga memiliki lautan yang sangat luas, karena 2/3nya terdiri dari lautan. Garis lingkaran pantai (coastal circumference) sepanjang 80.917 kilometer. Panjang itu lebih dari jumlah garis pantai USA, Australia dan semua daratan non-benua di seluruh dunia, yang panjangnya hanya 31.545 kilometer. Artinya Indonesia memiliki sumber energi potensial yang sangat besar dan tidak ada habisnya. Dengan kondisi alam ini sudah semestinya bangsa Indonesia tidak perlu khawatir akan kehabisan sumber energi, bahkan potensi air laut mampu memenuhi empat kali kebutuhan listrik dunia.
Besarnya potensi air laut sebagai sumber energi ini telah menarik perhatian MSA Sastroamidjojo MScE PhD, Presiden Direktur Yayasan Langit Lintang Samudra (LLS) untuk lebih mendalami potensi energi yang dihasilkan oleh air laut. Setelah berkutat dengan berbagai teori dan penelitian lapangan, dia berhasil menemukan apa yang dinamakan sebagai Baterai Laut. Dan laut Indonesia merupakan baterai raksasa yang dapat memenuhi kebutuhan listrik dunia.
Dari percobaan sederhana yang dilakukan LLS, dua liter air laut yang diambil dari pantai Parangtritis, sebagai elektrolit dialirkan ke rangkaian Grafit (anoda) dan Seng atau Zn (katoda) mampu menghasilkan tegangan 1,6 volt. Percobaan awal, ungkap Sastroamidjojo yang didampingi Wakil Direktur LLS, Kusmanto, ketika ditemui “PR” di laboratoriumnya di Sambisari, Purwomartani, Kalasan, Sleman Yogyakarta, katoda yang digunakan adalah arang aktif dari batok kelapa, arang kayu biasa.
Ternyata, arus listrik yang dihasilkan dari arang batok kelapa dan kayu tidak begitu besar. Namun begitu kedua arang dicampur, arus listrik yang dihasilkan lebih besar. Untuk mempermudah kemudian digunakan anoda Grafit Sentolo (percampuran antara arang batok kelapa dengan arang kayu).
Dalam percobaan sederhana dipakai dua buah gelas yang dimasukan elektroda Grafit Senotolo dan Seng Galvanis (seng yang telah dilapisi zat kimia sehingga menghambat adanya korosi, seng yang biasa digunakan sebagai atap rumah). Rangkaian plus dan minus tersebut kemudian dialirkan ke lampu pijar (bohlam). Seketika itu juga lampu pijar menyala. Dan semakin banyak gelas atau sel yang dirangkai, maka nyala lampu juga semakin terang.
Percobaan baterai laut dalam skala laboratorium ini kemudian diperbesar, yakni menggunakan air laut sebanyak 400 liter, dan accu (aki) bekas 12 volt. Aki bekas yang sebagian selnya sudah rusak tersebut kemudian dibuka, dan sel baterainya dibersihkan dengan air bersih biasa dengan maksud membuang kotoran yang ada di dalamnya. Sementara itu, pada bagian bawah aki diberi lubang sebanyak sel yang ada (dalam percobaan dibuat enam lubang, karena aki yang digunakan 12 volt, setiap sel dua volt). Pada bagian bawah lubang aki diberi tempat atau wadah untuk menampung air laut, yang keluar dari bagian bawah aki. Selanjutnya air tersebut dipompa kedalam ke dalam bak yang posisinya lebih tinggi, dengan bantuan selang air laut dapat kembali masuk ke dalam aki atau terjadi sirkulasi. Fungsi air laut dalam baterai adalah sebagai pengganti asam sulfat atau air aki.
Sebelumnya sekat yang terbuat dari met dipasang kembali, hal ini untuk menyelidiki ketahanan terhadap korosi. Sekat dari met dipasang kembali agar antara logam Pb (timbal) dan PbO (timbal oksidan) tidak berhubungan. Air laut tersebut juga ditimbang, untuk mengetahui berat jenisnya, 1.025 gr/liter, sedangkan derasnya aliran air yang melalui lubang baterai diukur debitnya. Hasil pengukuran 900 mili liter per lima detik per dua lubang sel.
Tegangan yang ada dalam baterai yang telah dialiri air laut, hasil pengukurannya antara 9,2 – 11,8 volt. Setelah empat hari air laut tersebut digunakan secara terus menerus, tegangan yang dihasilkan juga menurun. “Lampu mobil yang kita nayalakan dengan baterai air laut ini ternayta nyalanya lebih terang dibandingkan lampu mobil,” ungkap Kusmanto yang telah bergabung dengan LLS sejak berdiri tahun 1994.
Sebelum menggunakan Seng Galvanis yang mudah diperoleh di sembarang tempat, percobaan untuk mengetahui energi listrik air laut ini juga menggunakan katoda dari besi, stainles steel, dan seng (zn) murni. Dari percobaan yang paling sederhana, ternyata dari Seng Galvanis, kita mendapat aurs listrik cukup besar. Dan saat katoda mengguanka seng asli, energi yang dihasilkan menjadi lebih besar, dalam arti lampu yang dijadikan indikatornya menyala lebih terang.
Dijelaskan, salah satu tanda bahwa air laut mengandung arus listrik adalah adanya unsur Natrium Chlorida (NaCl) yang tinggi dan oleh H2O diuraikan menjadi Na+ dan Cl-. Dengan adanya partikel muatan bebas itu, maka ada arus listrik.
Pada prinsipnya, air laut yang mengandung garam masuk ke dalam baterai (tabung aki), sehingga muncul reaksi yang menimbulkan tegangan. Besarnya arus dan tegangan yang dihasilkan dari baterai ini tergantung dari kapasitas baterai atau aki. Semakin banyak aki yang digunakan dan tekanan air laut sekamin besar, maka arus atau tegangan yang dihasilkan juga akan semakin tinggi. Dengan demikian, apabila percobaan dilakukan di pantai, maka energi listrik yang dihasilkan juga semakin besar. Dengan kata lain, samudra merupakan baterai laut raksasa.
Di laboratoriumnya yang terlertak di pinggiran kota Yogyakarta, Sarstoamidjojo yang sudah berusia 81 tahun ini, LLS yang dipimpinnya tidak hanya meneliti energi air laut tetapi juga meneliti energi angin, tenaga surya dan tenaga laut.
01.05.08
jadi pembicara, gampang gak sih??
saat ikut training ataupun pelatihan, kepengen rasanya jadi seperti pembicara yang di depan panggung, berbicara dengan enak, merangkai kata bak pujangga yang udah melanglang buana di dunianya. Kadang kita pun terbuai dengan kata-katanya. Bisa gak ya aku sepeti mereka..?? ternyata kalo dicoba2 susah juga berbica, merangkai kata apalagi di depan banyak orang, waduh.. capek dech. Ternyata gak gampang bro… sis…
setelah saya telusuri, nanya sana sini, dan perjuangan lainnya, ternyata jadi pembicara itu harus melalui berbagai perjuangan. Pengen tau perjuangannya? simak tips berikut ini
1. banyak baca buku. Yang satu ini gak boleh ditinggalin untuk menjadi seorang pembicara. Buku adalah gudangnya ilmu. Tanpa buku alias jarang baca buku (apalagi gak pernah baca buku) wacana pemikiran kita akan buntu. Kita akan gagap informasi dan pengetahuan seperti orang yang hidup di hutan ato di daerah yang sangat amat terpencil sekali (hiperbola banget ya..)
2. banyak latihan lah…. gampang kok. kamu tinggal ngomong sendiri di depan cermin. Tatap matamu sendiri. ngomong dah sepuasnya dengan dirimu sendiri. Terserah apa yang mau kamu omongin. Kamu mo curhat ma diri sendiri n selesaikan sendiri ato kamu mo pidato17an juga boleh. yang penting bibir kamu ngomong terus ampe dower… (he..)
3. praktik langsung. .. ini yang jadi ujung tombaknya. klo baca n latihan mulu, gak dipraktekin, ya… percuma aja. sekalian nguji kemampuan yang kita punyai…
pokoke “asah pedangmu dan gunakan untuk perang….!!!”
sampah jadi listrik
Kalau Sutiyoso sedang bingung dengan bagaimana caranya mengeyahkan sampah di Jakarta, Michiaki Shigehiro justru sedang pusing mencari timbunan sampah yang cukup banyak: “kalau bisa yang lebih dari 100 ton per hari!” begitu kira-kira doi berkata.
Untuk apa Shigehiro mencari tumpukan sampah seabrek-abrek? ternyata doi mau mengubahnya menjadi energi listrik. Shigehiro adalah general business manager Eco Valley Utashinai, sebuah perusahaan yang mengubah sampah menjadi energi dengan menggunakan teknologi plasma arc, sebuah “sentakan” listrik yang mengionisasi gas dalam sebuah bilik (chamber) dan menghasilkan temperatur lebih dari 16.000°C, setara dengan 3 kali panasnya permukaan matahari. Sebuah teknologi seharga USD 59 juta, yang untuk menutupi investasi yang besar itu diperlukan timbunan sampah yang melimpah.
Sebelumnya mohon maaf (dan koreksinya) kalau banyak istilah teknis yang saya juga bingung mencari atau salah memberikan padanannya dalam bahasa Indonesia, terutama pada istilah-istilah yang berhubungan dengan teknologi plasma arc ini
Secara teori pembuangan sampah akan menjadi bisnis yang menguntungkan dan ramah lingkungan dengan mengubah sampah yang digaskan (gassified waste) menjadi energi. Di atas kertas, sampah padat perkotaan (SPP) mengandung sepertiga hingga setengah energi batubara pertonnya dan mampu untuk memasok energi dalam skala nasional. Pembangkit plasma Utashinai adalah satu-satunya fasilitas pendaur ulang SPP menjadi energi yang sudah beroperasi dan mampu untuk bertahan hidup sejak tahun 2002.
Beberapa perusahaan, yang berharap mampu meningkatkan kinerja yang sudah dihasilkan Jepang, saat ini juga tengah merancang fasilitas plasma arc mereka. Geoplasma, sebuah perusahaan yang berbasis di Atlanta bahkan sedang dalam tahap akhir perancangan sebuah pembangkit dengan ukuran yang 10 kali lebih besar daripada Utashinai yang akan dibangun di St Lucie, Florida. Jika rancangan ini selesai, maka pada tahun 2009 pembangkit ini akan mampu mengubah 2.700 ton sampah per hari menjadi energi listrik. Sementara itu Startech Environmental di Wilton, Connecticut mengumumkan kontraknya untuk membangun fasilitas serupa dengan kapasitas 180 ton per hari di Panama. Perusahaan lainnya yang saat ini masih dalam tahap negosiasi untuk pembangunan fasilitas serupa di Ottawa dan Barcelona adalah Plasco Energy Group di Ontario.
Plasma arc sendiri sebenarnya adalah sebuah teknologi lama, meskipun pemanfaatannya untuk pengolahan sampah dalam skala besar masih termasuk baru. Teknologi ini telah dikembangkan dan digunakan oleh NASA sejak tahun 60-an untuk mensimulasikan temperatur tinggi yang dialami pesawat ruang angkasa ketika memasuki atmosfer bumi. Semenjak perusahaan-perusahaan seperti Startech dan Westinghouse Plasma di Madison mengembangkan plasma arc pada tahun 90-an yang digunakan oleh Geoplasma untuk mengolah sampah, “obor” plasma (plasma torches) ini banyak digunakan untuk melumerkan sisa logam atau menghancurkan material yang berbahaya.
Obor ini dibuat dengan mengionisasi udara dalam bilik dengan sebuah powerful electric arc (apa ya padanannya dalam bahasa Indonesia?) untuk membangkitkan plasma, yang selanjutnya digunakan untuk memanaskan SPP, arang (coke), dan batu kapur (limestone) dalam sebuah bilik yang miskin atau hampa(?) oksigen (oxygen-starved chamber). Dalam kondisi ini, obor plasma akan memanasi campuran tersebut hingga suhu di atas 1500°C untuk mem-vitrifikasi (vitrify: change into glass or a glass-like substance by applying heat) material anorganik dalam SPP tanpa terjadi pembakaran (combution). Ampas/sisa yang tidak berbahaya yang dihasilkan dari proses ini dapat digunakan sebagai bahan konstruksi, meskipun harganya tidak cukup komersial alias tidak terlalu menguntungkan.
Yang lebih penting lagi, panas yang ada mampu menguraikan molekul organik dalam SPP. Jika dalam pembakaran yang biasa akan dihasilkan banyak gas karbon dioksida, maka dalam sebuah lingkungan dimana jumlah oksigennya terbatas, SPP akan diubah menjadi sebuah campuran dengan kandungan gas utama karbon monoksida dan hidrogen yang disebut syngas. Nah syngas inilah yang bisa dimanfaatkan untuk menggerakan turbin gas. Hidrogen yang dimurnikan bisa langsung digunakan sebagai bahan bakar, sedangkan campuran gas yang dihasilkan dari sampah ini terlebih dahulu harus diolah lagi untuk mengurangi kandungan polutan seperti nitrogen oksida dan dioksin, yang akan masuk ke dalam turbin atau lepas ke atmosfer.
Jepang sudah cukup sukses dengan teknologi ini. Pembangkit Utashinai sudah mampu menghasilkan 3000 megawatt energi per tahun, yang semuanya digunakan untuk menjalankan pembangkit tersebut. Nah sekarang mereka sedang bingung mencari sampah, karena suplai sampah di kota itu semakin berkurang. Namun demikian, selama ini ternyata baru 60% sampah (dari yang diharapkan oleh perusahaan) yang bisa diolah, selain itu energi listrik yang dihasilkan masih terbatas untuk digunakan oleh pembangkit itu saja, belum ada yang dijual. Fasilitas yang ada juga mengalami masalah operasional, dimana satu dari 2 fasilitas plasma arc yang ada sering tak beroperasi untuk perbaikan. Dan kalau kedua fasilitas yang ada itu berjalan semua, eh sampahnya yang tidak cukup.
Mengimpor sampah, itulah salah satu alternatif yang ada agar pembangkit Utashinai bisa tetap beroperasi optimal. Sayangnya penduduk di sana masih tidak bersedia jika daerah tempat tinggalnya dijadikan tempat penimbunan atau pengolahan sampah dari daerah lain. “Tidak ada orang yang punya persepsi yang baik tentang sampah!” begitu kira-kira kata Shigehiro.
Pada pembangkit Utashinai, energi yang mampu diubah menjadi listrik hanya 15% saja, karena turbin gas yang digunakan dalam pembangkit ini lebih murah harganya jika dibandingkan dengan apa yang tengah dirancang oleh Geoplasma. Geoplasma rencananya akan menggunakan turbin gas seharga USD 40 juta dengan efisiensi 40%.
Meskipun teknologi ini memiliki potensi yang menakjubkan untuk mengurangi tumpukan sampah yang menggunung, namun penggerak lingkungan masih saja mewaspadai akan potensi polutan yang ada dalam syngas. Dalam laporan tahun 2006 tentang strategi konversi termal SPP, Greenaction for Health and Environmental Justice yang berbasis di Kalifornia menyebut teknologi plasma arc dan gasifikasi dengan pemanasan tinggi lainnya sebagai incenerator yang tersamar.