06.30.08
budaya membaca dan menulis seperti Jepang
Sebuah artikel apik dari milis FLP mengenai budaya membaca dan menulis, seperti yang dicontohkan oleh warga jepang, yang konon sejarahnya telah diratakan dengan tanah negeri itu oleh Amerika. Tetapi yang patut kita contoh adalah perjuangan warga Jepang untuk mengembalikan negaranya seperti sedia kala dan bahkan lebih hebat lagi. selamat menikmati tulisan di bawah ini, semoga tercerahkan dan mengapilikasikan untuk membangun negeri Indonesia yang tercinta ini.
“Ya, aku bakal dibaca, ” demikian yang ditulis Multatuli di awal novelnya berjudul Max Havelaar.
Optimis dan harapan di atas dapat tercapai, bila masyarakat kita sudah seperti masyarakat Jepang. Masyarakat Jepang adalah masyarakat yang senang belajar (learning society) dan masyarakat yang terbuka terhadap segala informasi (well informed). Semua ini menjadikan mereka masyarakat yang gemar membaca (literate society). Hal inilah yang menyebabkan masyarakat Jepang menjadi orang yang gemar menulis.
Menulis bukan hanya milik penulis professional saja. Walhasil, hal-hal remeh seperti cara membersihkan rumah atau cara hidup sehat, mereka tuang dalam bentuk tulisan. Hasilnya, 65.000 judul buku diterbitkan setiap tahunnya.
Menurut data dari Bunkanews (situs media massa berbahasa Jepang), jumlah toko buku di Jepang sama
dengan di Amerika. Lucunya, luas negara Amerika 26 kali luas Jepang. Penduduknya juga dua kali lebih banyak. Hebatnya setengahnya adalah toko buku bekas sehingga masyarakat Jepang bisa membeli dengan harga murah.
Data dan kisah ini disampaikan oleh mas Gola Gong dalam memoarnya, Menggenggam Dunia –Bukuku Hatiku-. Mas Gola Gong melanjutkan bahwa saat dia ke Osaka dan Kobe, beliau naik bus kota subway dan jalan-jalan ke mana saja kaki melangkah. Dimana-mana orang membaca buku. Tak kenal waktu. Korannya tebal-tebal dan bisa jadikan alas tidur mas Gola Gong ketika dia terkantuk. Begitu yang diceritakannya.
Setelah membaca, kadang mereka meninggalkan begitu saja di bangku-bangku stasiun atau di tong sampah. Toko buku di Jepang lebih lama tutupnya dibanding dengan departement store.
Di dalam buku mas Gola Gong di atas, juga diceritakan bahwa upaya beliau untuk mengganti kegiatan menonton dan mendengar, dia siapkan berbagai macam bacaan di depan layar kacanya. Berbagai macam buku dapat ditemukan di berbagai sudutrumah beliau.
Tugas pertama yang harus kita lakukan adalah menyadarkan masyarakat tentang pentingnya ilmu, pengetahuan dan informasi. Orang yang mempunyai ilmu, pengetahuan dan informasi akan memiliki pendirian. Dia akan tidak mudah diombang ambing orang. Dia akan berspekulasi, meraba-raba seperti orang buta. Dia akan melakukan trial and error. Pendek kata, orang yang mengetahui berbeda dengan orang yang tidak mengetahui.
Masyarakat kita adalah masyarakat yang gemar menonton dan mendengar. Mereka lebih senang menonton
sinetron, film dan lebih senang mendengarkan musik. Begitulah yang disampaikan oleh kang Irfan Hidayatullah, Pimpinan FLP pusat dalam acara Inagurasi Pramuda FLP DKI tanggal 22 Juni yang lalu. Mereka lebih senang menonton dan mendengardaripada membaca.
Peluang membaca semakin menjadi sulit, ketika harga buku melambung tinggi. Bagi para kutu buku atau mereka yang gemar membaca hanya akan membeli buku bila sedang diskon saja atau pameran-pameran buku. Sebab, biasanya pada moment itulah buku sedang murah-murahnya. Diskon bisa mencapai 50%.
Dengan membaca, ide kita untuk menulis akan bermunculan. Ketika bacaan yang dibaca bertentangan atau berseberangan dengan ide yang telah diketahui, maka itu akan meletupkan ide. Makin banyak yang tidak pas dengan pengetahuan yang kita miliki, maka makin banyak ide yang muncul.
Tulisan dapat dimulai dengan tulisan yang terdapat di dalam bacaan dan kita memberi tanggapan terhadap bacaan itu. Makin banyak yang dibaca, maka makin banyak pula tulisan yang akan tertulis. Sebaliknya, jika waktu kita membaca berkurang atau teralihkan oleh berbagai kegiatan, maka ide menulis pun akan berkurang. Akibatnya, produktifitas menulis juga menurun.
Sebenarnya budaya menonton dan mendengar juga dapat diarahkan ke dunia tulis menulis. Ada orang yang terinspirasi untuk menulis, setelah mendengar lagu. Ada juga orang yang terinspirasi untuk menulis, setelah
nonton sinetron.
Kang Irfan Hidayatullah mendorong kita untuk membaca. Mas Gola Gong menyulut kita untuk membaca. Mas Muhammad Faudzil Adziim juga mengompor-ngompori kita untuk membaca. Nampaknya tugas seorang penulis memang dimulai dari menarik orang untuk banyak membaca.
06.28.08
keajaiban dunia yang sesungguhnya
Sekelompok siswa kelas geografi sedang mempelajari “Tujuh keajaiban Dunia”. Pada awal pelajaran,mereka diminta untuk membuat daftar yang mereka pikir merupakan “Tujuh Keajaiban Dunia“. Walaupun ada beberapa ketidaksesuaian, sebagian besar daftar berisi
1. Piramida
2. Taj Mahal
3. Tembok Besar Cina
4. Menara Pisa
5. Menara Eiffel
6. Kuil Parthenon
7. Candi Borobudur
ketika mengumpulkan daftar jawaban, sang guru memperhatikan seorang pelajar yang belum mengumpulkan kertas jawabannya. Sang guru lalu bertanya kepadanya apakah dia mempunyai kesulitan. murid itu lalu menjawab “iya, sedikit. Saya tidak bisa memilih karena sangat banyaknya”. sang guru berkata, “baik, katakan pada kami apa yang kau miliki”. Murid itu ragu sejenak,kemudian membaca, “saya pikir Tujuh Keajaiban Dunia” adalah
1. Bisa Melihat
2. Bisa Mendengar
3. Bisa Menyentuh
4. Bisa Menyayangi
5. Bisa Merasakan
6. Bisa Tertawa
7. dan Bisa Mencintai
Ruang kelas pun seketika menjadi sunyi.
Renungan….
Alangkah mudahnya bagi kita untuk dapat melihat hasil eksploitasi manusia dan kita menyebutnya “Keajaiban”. Sementara untuk semua yang telah Tuhan karuniakan kepada kita, kita menyebutnya sebagai hal “Biasa”…. Semoga anda hari ini diingatkan tentang segala hal yang betul – betul ajaib dalam kehidupan anda
06.25.08
(sedikit tentang) Hakikat Iman
“Katakanlah: “jika bapa-bapa, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya. ” Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik” (QS At. Taubah 24)
Inilah hakikat iman!. ketika seluruh hal keduniawian mampu dikalahkan oleh sebuah komitmen rabbani. sebuah janji abadi antara kita dan rabbul izzati. tak ada cinta yang lebih raya daripada cinta yang mempertautkan antara hamba dan pencipta, dengan rasul pembawa cahaya, dengan jihad yang menjadi gerbang suci pertemuan kita dengan-Nya.
begitupun dengan Aktivitas dakwah yang menjadi salah satu pembuktian hakikat cinta, jihad dan pengorbanan. ia bahkan lebih berharga dari nyawa kita. karena dakwah akan selalu menumbuhkan ruh-ruh baru yang siap mempersembahkan segalanya bagi cinta paling raya yang terus dibina dan dipelihara.
“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah
menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Quran. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar.”(QS. At-Taubah 111)
bukan karena mahalnya harga jiwa kita hingga kemudian Allah menukarnya dengan surga, tapi karena harga dakwah yang melekat dan menyatu dengan ruh kita. kita terpilih karena kualitas diri dan pembuktian cinta yang telah menggerakkan semua sendi untuk mendapatkan sebuah label ‘mukmin’ dari rabbul izzati. Inilah hakikat iman!
“gara-gara” perangkap tikus
Sepasang suami dan istri petani pulang ke rumah setelah berbelanja. Ketika mereka membuka barang belanjaan, seekor tikus memperhatikan dengan seksama sambil menggumam, “Hmm…, makanan apa lagi yang dibawa mereka dari pasar?”
Ternyata, salah satu yang dibeli oleh petani ini adalah ‘perangkap tikus’. Sang tikus kaget bukan kepalang. Ia segera berlari menuju kandang dan berteriak “Ada ‘perangkap tikus’ di rumah! Di rumah sekarang ada perangkap tikus!”
Ia mendatangi ayam dan berteriak, “Ada perangkap tikus!”
Sang Ayam berkata, “Tuan Tikus…, aku turut bersedih. Tapi, itu tidak berpengaruh terhadap diriku.”
Sang Tikus lalu pergi menemui seekor Kambing sambil berteriak hal serupa. Tak jauh beda, sang Kambing pun berkata, “Aku turut ber simpati, tapi tidak ada yang bisa aku lakukan.”
Tikus lalu menemui Sapi. Ia mendapat jawaban sama. “Maafkan aku. Tapi perangkap tikus tidak berbahaya buat aku sama sekali.”
Ia lalu lari ke hutan dan bertemu Ular yang memiliki bisa luar biasa. Sang ular berkata, “Ahh…, Perangkap Tikus yang kecil tidak akan mencelakai aku.”
Akhirnya Sang Tikus kembali ke rumah dengan pasrah mengetahui kalau ia akan menghadapi bahaya sendiri.
Suatu malam, pemilik rumah terbangun mendengar suara keras. Perangkap tikusnya berbunyi, menandakan telah memakan korban. Ketika melihat perangkap tikusnya, ternyata yang terperangkap adalah sang Ular. Buntut ular yang terperangkap membuatnya semakin ganas dan menyerang istri pemilik rumah.
Walau sang Suami sempat membunuh Ular, sang istri terkena gigitan Ular. Sang Suami harus membawa istrinya ke rumah sakit. Dan tak ayal kemudian, istrinya sudah boleh pulang namun beberapa hari kemudian istrinya tetap demam.
Ia lalu minta dibuatkan sop ceker ayam oleh suaminya. Kita semua tahu, sop ceker ayam sangat bermanfaat buat mengurangi demam. Suaminya dengan segera menyembelih Ayam untuk diambil dan dimasak cekernya.
Beberapa hari kemudian, sakitnya tidak kunjung reda. Seorang teman menyarankan untuk makan hati Kambing. Ia lalu menyembelih Kambing untuk diambil hatinya.
Masih, istrinya tidak sembuh-sembuh dan akhirnya meninggal dunia.
Banyak sekali orang datang pada saat pemakaman. Sehingga sang Petani harus menyembelih Sapi untuk memberi makan orang-orang yang melayat.
Dari kejauhan, sang Tikus menatap dengan penuh kesedihan. Beberapa hari kemudian, ia melihat, ‘perangkap tikus’ tersebut sudah tidak digunakan lagi.
Well… suatu hari, ketika Anda mendengar seseorang dalam kesulitan dan mengira itu bukan urusan Anda, pikirkan sekali lagi!
06.13.08
kaya, gagal, usaha
Saya mau sharing sebuah cerita, semoga bermanfaat dan memberi
masukan berharga bagi kita, bahwa kesuksesan dan keberhasilan itu
memang harus di perjuangkan dan tidak datang dengan tiba-tiba.
Silahkan menjawab pertanyaan dibawah sebagai awal dari sebuah
cerita…
Pertanyaan pertama : siapa yang MAU menjadi kaya ?
Semua orang pasti akan angkat tangan.
Pertanyaan kedua : siapa yang BERUSAHA utk menjadi kaya ? Hanya
sebagian saja yang angkat tangan.
Pertanyaan ketiga : Siapa yang SUDAH kaya ?
Jumlah yang angkat tangan lebih sedikit lagi.
Apa yang salah disini ?
Pada pertanyaan pertama, orang hanya ditawari saja suatu keadaan.
Tidak sulit, karena mereka tinggal bilang mau atau tidak. Pada
pertanyaan kedua, sudah menjurus ke tindakan yang akan anda lakukan
untuk mencapai pertanyaan pertama tersebut. Disini orang yang
menjawab positif tidak sebanyak di pertanyaan pertama. Macam-macam
penyebabnya. Mengapa ?
Orang mau kaya secara cepat, kalau bisa secara instan tanpa perlu
bekerja keras. Alasan kedua, mereka mau bekerja keras, tapi “not in
the right track” sehingga kerja keras mereka tidak membuahkan hasil
sesuai yang diharapkan. Alasan ketiga, mereka tidak tahu harus
memulai dari mana, alasan terakhir mereka merasa cukup hidup yang
biasa-biasa saja, tidak perlu terlalu ambisius.”Ora usah ngoyo”,
begitu kata orang jawa.
Pada pertanyaan ketiga adalah pada hasil, apakah hasil kerja anda di
pertanyaan kedua membuahkan hasil yang memuaskan. Hanya orang yang sudah berhasil di pertanyaan kedua yang bisa ikut angkat tangan
disini. Sebenarnya, gimana sih cara untuk menjadi kaya, terutama
secara mudah kalau bisa ? saya juga mau ^_^
Ada beberapa cara untuk kaya secara mudah. Yang pertama adalah lahir
sebagai anak orang kaya. Jadi berbahagialah anda yang lahir dengan
nama belakang Gates, Onasis dan Hilton. Karena begitu lahir anda cukup
angkat tangan untuk menjawab pertanyaan ketiga saja.
Yang kedua adalah Kawin dengan anak orang kaya. Namun apabila anda
sudah menikah dan tidak mendapatkan “kesempatan” ini, anda bisa
dengan cara ketiga, yaitu mempunyai menantu orang kaya. Masih ada
beberapa cara lain, namun yang berikut lebih mengandalkan dewi
fortuna, misalnya anda menang undian atau dapat warisan mendadak
dari keluarga. Kalau dari semua cara tersebut anda tidak berhasil,
berarti anda memang harus menggapai melalui jalur kerja keras.
Cara ketiga yang menarik dan Halal. Bertemu dengan orang yang tepat.
Kerja keras (hard work) saja tidak menjamin orang menjadi kaya.
Perlu juga di imbangi dengan kerja cerdas (smart work). Orang yang
tepat adalah orang yang bersedia menjadi mentor kita, serta mau
membimbing kita. Tentunya dia sendiri juga sudah kaya, jadi bimbingan yang diberikan bukan cuma teori saja, tapi juga pengalaman. Pengalaman itu mahal harganya, karena dengan belajar dari pengalaman orang lain anda akan terhindar dari “lubang jebakan” kegagalan.
Dalam kehidupan sehari-hari ini, seperti apa sih orang yang tepat
itu ? tidak mudah memang menemukan orang yang tepat. kalaupun
misalnya anda sudah ketemu denga orangnya. belum tentu juga dia mau
membimbing anda. Orang yang tepat tidaklah selalu membimbing anda
secara langsung, bisa juga teknik, sistem, prinsip, kisah sukses
orang lain, tokoh idola, maupun suatu kebijaksanaan (wisdom).
Tidak usah berfikir terlalu rumit, mulailah dari sekitar anda saja.
Adakah suatu kebijakan atau seseorang yang sudah sukses yang bisa
anda contoh ? kalau ada cobalah untuk mengamati bagaimana proses
yang dia lakukan selama ini.
Lalu bagaimana mengetahui bahwa prinsip atau mentor yang akan kita
contoh itu tepat? Just Do It, seperti kata Nike.Lakukan saja. Dan,
jangan pula takut gagal, karena kita akan lebih banyak belajar dari
kegagalan daripada keberhasilan. tidak ada kesuksesan tanpa
kegagalan ataupun pengorbanan. Kita bisa belajar banyak dari mentor
ataupun pengalaman orang -orang sukses bagaimana mereka mencapainya.