02.19.09

malu pada ALLAH swt

Ditulis dalam diary-koe, hikmah, motivation, tauziyah pada 4:58 am oleh vikikurdiansyah

aku hidup di dunia udah cukup lama sih… skitar 23.5 tahun…amanah waktu yang udah diberikan kepadaku belum tak maksimalkan. klo tak itung2 perhari waktu ku banyak yang sia2, hiks..

evaluasi waktu harian (24 jam)

tidur : 8 jam

makan+minum: 2 jam (pagi, siang, malem)

mandi : 1 jam (pagi, sore)

belajar : 5 jam

sholat++ : 3 jam

ngobrol : 2 jam

lain2 : 3 jam(refresing, jalan2, dll)

total : 24 jam

klo dalam satu bulan…..

tidur : 8 jamx30=240jam

makan+minum: 2 jam (pagi, siang, malem)x30=150jam

mandi : 1 jam (pagi, sore)x30=30jam

belajar : 5 jamx30=150jam

sholat++ : 3 jamx30=90jam

ngobrol : 2 jamx30=60jam

lain2 : 3 jam(refresing, jalan2, dll)x30=90jam

weleh2 ….ternyata banyak tidurnya…..banyak yang gak bermanfaat. ALLAH menciptakan kita untuk beribadah, bukan untuk tidur…..

mengapa manusia seperti aku ini belum bisa memanfaatkan waktu……

JIKA ALLAH MEMBERITAHUKAN KE KITA BAHWA WAKTU KITA DI DUNIA INI TINGGAL BESOK, APA YANG AKAN KITA LAKUKAN????

TETAP MALES2AN, BERSIAPLAH KE AZAB KUBUR DAN NERAKA…!!!

seharusnya nyontoh bayi

Ditulis dalam hikmah, motivation pada 3:43 am oleh vikikurdiansyah

kehidupan ini tak akan berakhir perjuangannya. Selama kita masih bernapas dan aliran darah masih mengalir, perjuangan harus dilakukan. tak perduli engkau siapa, tak tau umur berapa pun, dan dimanapun, perjuangan wajib terus digulirkan.

bayi jika ingin hidup harus nangis dulu, klo ingin bisa berjalan harus merangkak dulu. umur bertambah sedikit ingin bisa naik sepeda sendiri, sepeda roda dua pastinya. harus jatuh bangun dulu… jatuh berkali-kali dan ampe berdarah-darah. Semangat yang luar biasa. tanpa kenal lelah, tanpa perhitungan pengorbanan.

semakin bertambah usia semakin nakal aja, smakin males aja. semua yang dilakukan harus dipikir mateng2. gak kayak dulu lagi waktu masih balita. gak mikir apa2 untuk melakukan sesuatu.

seharusnya kita yang sekarang punya “pemikiran” seperti bayi, tidak takut, tidak malu melakukan sesuatu. tidak ragu untuk mencoba hal yang baru. tapi mengapa semangat itu telah pudar ketika kita udah gede… mengapa pengorbanan yang waktu itu tidak kita pikirkan, kini malah muncul, haruskah kita perhitungan dalam meraih kesuksesan. terlalu banyak mikur dan perhitungan malah gak jalan2….

02.11.09

bersyukur dan berjuang

Ditulis dalam cerita, hikmah, motivation pada 8:09 am oleh vikikurdiansyah

Alkisah, di beranda belakang sebuah rumah mewah, tampak seorang anak sedang berbincang dengan ayahnya. “Ayah, nenek dulu pernah bercerita kepadaku bahwa kakek dan nenek waktu masih muda sangat miskin, tidak punya uang sehingga tidak bisa terus menyekolahkan ayah. Ayah pun harus bekerja membantu berjualan kue ke pasar-pasar,” tanya sang anak. “Apa betul begitu, Yah?”

Sang ayah kemudian bertanya, “Memang begitulah keadaannya, Nak. Mengapa kau tanyakan hal itu anakku?”

Si anak menjawab, “Aku membayangkan saja ngeri Yah. Lantas, Apakah Ayah pernah menyesali masa lalu yang serba kekurangan, sekolah rendah dan susah begitu?”

Sambil mengelus sayang putranya, ayah menjawab, “Tidak Nak, ayah tidak pernah menyesalinya dan tidak akan mau menukar dengan apapun masa lalu itu. Bahkan, ayah mensyukurinya. Karena, kalau tidak ada penderitaan seperti itu, mungkin ayah tidak akan punya semangat untuk belajar dan bekerja, berjuang dan belajar lagi, hingga bisa berhasil seperti saat ini.”

Mendapat jawaban demikian, si anak melanjutkan pertanyaannya, “Kalau begitu, aku tidak mungkin sukses seperti Ayah dong?”

Heran dengan pemikiran anaknya, sang ayah kembali bertanya, “Kenapa Kau berpikir tidak bisa sukses seperti ayah?”

“Lho kata Ayah tadi, penderitaan masa lalu yang serba susah lah yang membuat Ayah berhasil. Padahal aku dilahirkan dalam keluarga mampu, kan ayahku orang sukses,” ujar si anak sambil menatap bangga ayahnya. “Ayah tidak sekolah tinggi, sedangkan Ayah menyuruhku kalau bisa sekolah sampai S2 dan menguasai 3 bahasa, Inggris, Mandarin dan IT. Kalau aku ingin sukses seperti Ayah kan nggak bisa dong. Kan aku nggak susah seperti Ayah dulu?”

Mengetahui pemikiran sang anak, ayah pun tertawa. “Hahaha, memang kamu mau jadi anak orang miskin dan jualan kue?” canda ayah.

Digoda sang ayah, si anak menjawab, “Yaaaah, kan udah nggak bisa memilih. Tapi kayaknya kalau bisa memilih pun, aku memilih seperti sekarang saja deh. Enak sih, punya papa mama baik dan mampu seperti papa mamaku hehehe.”

Sang ayah lantas melanjutkan perkataannya, “Karena itulah, kamu harus bersyukur tidak perlu susah seperti ayah dulu. Yang jelas, siapa orangtua kita dan bagaimana keadaan masa lalu itu, kaya atau miskin, kita tidak bisa memilih, ya kan? Maka, ayah tidak pernah menyesali masa lalu. Malah bersyukur pada masa lalu yang penuh dengan penderitaan, dari sana ayah belajar hanya penderitaan hidup yang dapat mengajarkan pada manusia akan arti keindahan dan nilai kehidupan. Yang jelas, di kehidupan ini ada hukum perubahan yang berlaku. Kita bisa merubah keadaan jika kita mau belajar, berusaha, dan berjuang habis-habisan. Tuhan memberi kita segala kemampuan itu, gunakan sebaik-baiknya. Dimulai dari keadaan kita saat ini, entah miskin atau kaya. Niscaya, semua usaha kita diberkati dan kamu pun bisa sukses melebihi ayah saat ini. Ingat, teruslah berdoa serta berusaha. Belajar dan bekerjalah lebih keras dan giat. Maka, cita-citamu akan tercapai.”

Pembaca yang budiman,

Pikiran manusia tidak mungkin mampu menggali dan mengetahui rahasia kebesaran Tuhan. Karena itu, sebagai manusia  kita tidak bisa memilih mau lahir di keluarga kaya atau miskin. Kita juga tak bisa memilih lahir di negara barat atau di timur dan lain sebagainya.

Maka, jika kita lahir di keluarga yang kaya, kita harus mampu mensyukuri dengan hidup penuh semangat dan bersahaja. Sebaliknya, jika kita terlahir di keluarga yang kurang mampu, kita pun harus tetap menyukurinya sambil terus belajar dan beriktiar lebih keras untuk memperoleh kehidupan lebih baik. Sebab, selama kita bisa bekerja dengan baik benar dan halal, Tuhan pasti akan membantu kita! Ingat, bahwa Tuhan tidak akan merubah nasib seseorang, tanpa orang itu mau berusaha merubah nasibnya sendiri.

Terus berjuang, raih kesuksesan!

02.09.09

Aku, Valentine`s Day dan Seonggok Tumpukan Sampah

Ditulis dalam Uncategorized pada 5:28 am oleh vikikurdiansyah

Apa yang anda lakukan manakala hari Valentine`s Day (14 Februari) itu tiba? Aksikah, demokah, turun kejalan sambail meneriakan yel-yel, mengerumuni sekaligus merusak pusat peretaran seks, mengucapkan “Selamat Hari Valentineâ”, ataukah diam seribu bahasa.

Bila pertanyan itu di alamatkan padaku, maka aku tak akan menjawabnya. Terlebih lagi, melarang mereka untuk tidak melaksanakan acara Valentine. Namun, akan sedikit bercerita tentang kasih sayang. Sekedar pelipur lara di tengah-tengah kepenatan rutinitas bencana yang gak pernah lepas dari negeri ini.

Pasalnya momen ini merupakan hari bersejarah bagi kelompok tertentu. Mereka berusah ingin membagai kebahagiaan satu sama lain (kaum adam dan hawa) dalam bingkai cinta kasih. Meski terkadang disalahartikan. Hingga nyaris menuai protes dari golongan tertentu. Alih-alih mengikuti tradisi barat dan tak sesuai dengan budaya timur pun menjadi alasan mereka untuk berbuat semaunya.

Konon, memasuki awal abad keempat sebelum masehi, bangsa Romawi terbiasa mengadakan pesta bagi Dewa Lupercalia (Lupercus). Perhelatan akbar itu, dilaksanakan pada pertengahan bulan Februari. Tentunya, bersamaan dengan musim kawin burung.

Perayaan hajatan Lupercalia itu, dianggap belum berhasil manakala setiap laki-laki atau perempuan mendapatkan pasangan masing-masing. Uniknya lagi, perjodohan tadi digelar dengan cara setiap gadis harus menuliskan namanya pada secarik kertas, kemudian dimasukkan ke dalam kotak. Begitupun sebaliknya. Para pemuda yang hadir diwajibkan mengambil kertas di dalam kotak tersebut secara acak. Walhasil, wanita yang terpilih akan menjadi pasangan jejaka tersebut, hingga berujung pada kegiatan Lupercalia tahun depan.

Namun, seiring waktu sepenggal zaman dan kuatnya pengaruh Gereja Roma. Kehadiran acara perjodohan pun harus berujung di tiang gantung. Walau telah berlangsung cukup lama sekira 800 tahun tradisi luhur itu melekat sekaligus menjadi bagian yang tak bisa dipisahkan dari masyarakat kala itu. Pasalnya, pesta pora itu dinilai bertentangan dengan iman Kristen, bahkan termasuk golongan kafir.

Lagi-lagi setiap keadaan selalu hadir juru penyelamat bagi kaum lemah. Terlebih lagi, pada saat Kaisar Roma berada dalam genggaman Claudius II. Ia memberlakukan peraturan yang melarang orang-orang untuk menikah.

Tiba-tiba, seorang uskup dari Interamma bernama Valentine (270 SM) berani memulai kembali kebiasaan tersebut. Meski dalam prosesi kegiatanya jauh berbeda dengan tradisi Lupercalian sebelumnya. Sudah tentu, secara diam-diam uskup Valentine mengumpukan kaum muda-mudi yang saling “silang rasa” supaya dapat dinikahkan secara massal.

Di lain sisi, aktivitas Valentine itu sudah tercium oleh Kaisar. Sampai-sampai Ia murka terhadap sang Uskup.

Alhasil, hotel predeo pun harus menjadi pilihan sekaligus rumah yang tak bisa ditawar-tawar lagi. Tak hanya itu, ia bersama pengikutnya pula harus beribadah pada Dewa Romawi. Bila mereka enggal melaksanakan perintah penguasa, maka ia harus rela menangung akibatnya.

Kematian pun menjadi buah kegigihanya (14/02/269 M). (The World Book Encyclopedia, 1998) Walau sebelumnya Ia harus mendapatkan cacian, makian, bogem, lemparan batu di tiang penyanggah dan dipenggal secara sadis. Hingga nyawanya pun mesti lepas dari jiwa raganya.

Namun, berkat keimanan yang kuat dan tebaran kasih sayang di penghujung titik nadir Ia masih sempat berpesan kepada kaum hawa saat menyembuhkan mata seorang gadis dari kebutaanya. Sang Mesias menulis catatan kecil bertajuk ‘From Your Valentine’.

Semenjak itulah, ungkapan-ungkapan Valentine menjadi simbol hari kasih sayang. Hal ini terlihat dari Kebiasaan mengirim kartu Valentine. Meski tak ada kaitan langsung dengan St. Valentine. Pada 1415 M ketika the Duke of Orleans dipenjara di Tower of London, pada perayaan hari gereja mengenang St.Valentine 14 Februari, ia mengirim puisi kepada istrinya di Perancis. Kemudian Geoffrey Chaucer, penyair Inggris mengkaitkannya dengan musim kawin burung dalam puisinya (The Encyclopedia Britannica, Vol.12 hal.242 , The World Book Encyclopedia, 1998, Sinar Harapan 10/02/2003).

Secara bahasa ‘Valentine’ berasal dari Latin yang berarti : `Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuat dan Yang Maha Kuasa”. Kata ini ditujukan kepada Nimrod dan Lupercus, Tuhan orang Romawi. (www.korrnet.org)

Maraknya aksi prostitusi berkedok panti pijat dan menjamurnya kematian bocah tak berdosa akibat hubungan di luar nikah serta tak diterima kembali di kelurganya membuat sebagian muda-mudi lupa diri, bahkan terlelap dalam kegelamuran pesta tersebut.

Nyatanya, kehadiran hari kasih sayang malah melanggengkan budaya lalim. Sebab bisa berakibat patal bagi kaum hawa manakala terjadi perbuatan yang tak diinginkan. Ambail contoh hamil diluar nikah, penularan HIV/AIDS. Demikian penuturan dr Andik Wijaya SMSH, seorang Seksolog dari Surabaya. “Sekarang Valentine’s Day nuansanya cenderung romantis dan erotis,” tutur dr Andik. Ini bukan omong kosong lho. Salah satu faktor yang mensukseskan erotisme saat perayaan Valentine adalah makanan khas Valentine`s Day berupa coklat. Emang kenapa dengan coklat? Menurut dr Andik, coklat mengandung zat yang disebut Phenyletilamine atau zat yang bisa membangkitkan gairah seksual. Nah lho.

Bukti lain, lanjutnya, pergeseran makna Valentine‘s Day, di Inggris 14 Februari malah dicanangkan sebagai The National Impotence Day (hari impoten nasional) dengan tujuan meningkatkan kewaspadaan masyarakat terhadap ancaman impotensi 2 juta pria Inggris. Sedang di AS lebih parah lagi. 14 Februari ditetapkan sebagai The National Condom Week (pekan kondom nasional). “Maksudnya kampanye nasional penggunaan kondom, karena tiap perayaan Valentine‘s Day diikuti peningkatan kasus HIV/AIDS. Padahal tingkat kegagalan kondom mencapai 33,3 persen,” imbuh dr. Andik. (www.dudung.net)

Padahal, bangsa Indonesia sedang dirundung malang pelbagai musibah dengan silih berganti dan saling susul menyusul bencana. Gundukan sampah pun pasca musibah kembali meminta perhatian kita. Karena pengekspersian kasih sayang tak selamanya harus berpesta pora. Atau sekedar tukar menukar kado berupa cokelat, bunga, perhiasan, kaset/CD dan hadiah spesial lainya kepada pujaan hati.

Disadari atau tidak, perayaan dari budaya Barat ini pun telah diserap oleh orang-orang Indonesia. Sudah banyak orang Indonesia yang merayakannya dengan kebiasaan masing-masing. Bukankah membuang sampah pada tempatnya dan membersihkan tumpukan lumpur tidak termasuk dalam bingkai kasih sayang pada lingkungan sekitar? Entahlah [Ibn Ghifarie]

Dikirimkan oleh
ibnu
http://boelldzh.blogspot.com/

Penulis adalah Mahasiswa jurusan Studi Agama-Agama (Perbandingan Agama d/h)Fakultas Filsafat dan Teologi, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati (SGD) Bandung dan aktif di Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Lembaga Pengkajian Ilmu Keislaman (LPIK) sebagai Koord Post LPIK serta Koord Komunitas Mata Pena (KMP) Bandung.

Memang benar apa yang dituliskan, kasih sayang tidak harus berupa pergaulan tanpa batas. Ikatan pernikahan adalah cara yang paling baik untuk melindungi kasih sayang antar laki-laki dan perempuan

02.03.09

2 jam = 2 kali lipat

Ditulis dalam cerita, hikmah, tauziyah pada 7:47 am oleh vikikurdiansyah

“Allah selalu menolong hambaNya, selagi sang hamba suka menolong saudaranya” (Muhammad Saw)

“Ma, tolong transfer uang satu setengah juta ke rekening adikku Arif ya…!” ucap Didik kepada Feny istrinya melalui ponsel. “Buat apa, Pa?!” tanya Feny. “Pokoknya kamu kirim saja ke rekening dia lewat sms banking. Hitung-hitung berbagi rezeki. Sepertinya sudah lama kita gak bantu Arif sekeluarga” jelas Didik.
Didik yang sedang berada di atas mobilnya pagi itu tergerak untuk bersilaturahmi kepada Arif adiknya di kampung yang sudah lama tidak ia hubungi. Ingin sekali ia menelpon adiknya sekedar menanyakan kabar, namun ada sejumput rezeki yang ingin ia bagi kepada Arif yang menjadi seorang PNS di Semarang.
Tak lama menunggu, hand phone Didik berbunyi menandakan ada sms masuk dari istrinya mengabarkan bahwa dana Rp 1,5 juta telah ditransfer ke rekening Arif.
Didik membalas sms istrinya, lalu ia pun memutar telpon Arif untuk bersilaturahmi.
***
“Apa kabarmu, Dik?” tanya Didik kepada Arif. Perbincangan di menit-menit awal begitu akrab antara dua orang saudara kandung yang lama tidak bertemu sebab terpisah jarak. “Oh ya…, baru saja Feny istriku kirim dana satu setengah juta rupiah buat keponakan-keponakan ku di Semarang. Silakan dicek apa sudah sampai?!” jelas Didik. “Subhanallah, Alhamdulillah! Terima kasih, Mas. Saya gak ngerti harus ngucap apa ya…?” sambut Arif. “Memangnya kenapa, Rif?” tanya Didik. “Subhanallah. .. sudah beberapa hari ini saya bingung mau ngutang kemana untuk bayar sekolah Danu. Dia diterima di SMP Negeri, tapi uang pendaftarannya Rp 1.5 juta. Kemana-mana saya cari utangan, gak dapat-dapat. Tapi Alhamdulillah rupanya Allah gerakkan hati mas Didik padahal saya belum cerita tentang hal ini.”
Dalam hati, Didik merasa kagum atas skenario Allah ini lalu ia menambahkan, “Sudahlah, itu rupanya sudah Allah atur. Mudah-mudahan dana itu berguna untuk pendidikan Danu!”
Pembicaraan kedua saudara itu berakhir dengan kalimat syukur dan terima kasih yang berulang-ulang dari Arif. Padahal, Didik pun turut bersyukur kepada Allah Swt Sang Maha Pengatur yang sudah menggerakkan hatinya dan Feny untuk mudah membantu keperluan Arif sekeluarga yang sedang dirundung masalah. ”Segala puji bagiMu, ya Allah!” gumam Didik
***
Hari itu Didik hendak memenuhi sebuah undangan rapat di kantor rekanan tentang proyek pipanisasi gas yang akan dibangun. Sebagai seorang pengusaha pemilik perusahaan Oil & Gas yang berkiprah belasan tahun, saran dan analisa Didik amat dibutuhkan. Dalam rapat tersebut Didik mendapatkan porsi untuk menjelaskan hal-hal teknis yang pernah ia jumpai di lapangan dalam hal sedemikian. Semua statementnya dicatat oleh seluruh yang hadir di ruangan itu. Hampir 1 jam ia bicara, dan setelah ia memaparkan penjelasannya dan ditambah dengan sedikit diskusi Didik pun berpamitan untuk meninggalkan ruangan rapat karena ada acara yang harus ia hadiri.
***
Didik bergegas meninggalkan ruang rapat di kantor rekanannya itu. Terdengar oleh telinga Didik ada hak sepatu wanita di belakangnya yang berlari cepat seperti mengejar sesuatu. Benar saja, rupanya wanita itu kini sudah berada di sisi Didik. “Maaf pak Didik saya Amel. Boleh saya minta tanda tangan pak Didik?!” “Tanda tangan untuk apa, Mel? ” Didik bertanya. “Ini ada uang kehadiran rapat yang boss titipkan kepada saya untuk pak Didik” jelas Amel. Didik pun menandatangani sebuah kwitansi berwarna hijau yang tertera nominalnya Rp 3 juta. Setelah kwitansi itu ditandatangani, maka Amel pun menyerahkan selembar amplop yang berisi cek senilai Rp. 3 juta.
***
Kini Didik sudah berada di atas mobilnya. Hatinya berbunga-bunga dan segera ia menelpon istrinya. “Ma…, ingat gak 2 jam lalu aku memintamu transfer satu setengah juta ke rekening Arif. Subhanallah, dalam tempo dua jam itu, Allah langsung membalas 2 kali lipat dari sedekah kita!!!”
Feny pun berkali-kali berucap hamdalah tanda syukur. Pagi itu Didik & Feny menyaksikan sebuah janji Allah yang nyata bahwa perniagaan di jalan Allah sedikit pun tidak mendatangkan kerugian, akan tetapi malah bertambah, bertambah dan bertambah!

sumber: 

Bobby Herwibowo
0817200456
www.kaunee.com

Halaman berikutnya