energi listrik dari revolving door 4 April 2008
Posted by vikikurdiansyah in power engineering, teknologi.add a comment
Beberapa desainer di New York City mempunyai konsep menarik untuk menghasilkan energi listrik dari pintu sebuah bangunan komersial yang dilewati banyak orang.
Konsep yang ditawarkan para desainer yang bekerja di Fluxxlab Studio tersebut adalah melakukan modifikasi pada pintu putar (revolving door). Revolution Door, demikian mereka menamakan konsepnya, hanya melakukan perubahan dengan menambahkan generator pada poros pintu bagian atas. Desain generator yang digunakan pun berbeda dengan generator pada umumnya. Perbedaan ini hanya pada bentuk desain dan tidak berbeda dari prinsip kerja generator.
Ketika seseorang melewati pintu tersebut, maka pintu akan terdorong dan menghasilkan putaran pada generator. Bisa dibayangkan, pada bangunan komersial, akan ada banyak orang yang keluar dan masuk melalui pintu tersebut, meski frekuensinya tidak terus menerus. Alhasil, hasil setiap putaran generator bisa disimpan ke dalam sebuah baterai untuk dipergunakan kemudian.
Prinsip tersebut sebenarnya tidak berbeda jauh dengan turbin pada pembangkit listrik tenaga air ataupun turbin angin, hanya saja kontinyuitasnya berbeda.
Fluxxlab sendiri mendapatkan bantuan dana dari Eyebeam Art and Technlogy Center serta New York University Sustainaability Fund.
Sebuah ide kreatif dan inovatif yang bisa diterapkan untuk gedung-gedung komersial, stasiun kereta api, bandara dan tempat-tempat yang ramai dikunjungi orang.
Kain berteknologi nanogenerator, menghasilkan listrik dari lingkungan 4 April 2008
Posted by vikikurdiansyah in power engineering, teknologi.1 comment so far
Nanoteknologi masih menjadi alternatif para ilmuwan untuk mengembangkan teknologi guna menangkap berbagai bentuk energi. ”Baju penghasil listrik” adalah salah satu yang menerapkan keunggulan nanoteknologi.
Para peneliti menggunakan sepasang serat kain yang dilapisi dengan kabel berskala nano dan terbuat dari zinc oksida untuk menghasilkan arus listrik. Penggunaan sepasang serat kain tersebut pada dasarnya untuk mendapatkan efek piezoelektrik.
Piezoelektrik akan mengubah energi kinetik yang mengenai ”baju” tersebut menjadi energi listrik. Gerakan orang yang mengenakannya ataupun tiupan angin akan menggerakkan kain yang menempel di tubuh orang tersebut menjadi arus listrik yang bisa digunakan untuk mengisi arus listrik peralatan portabel yang dibawa oleh orang tersebut. Bahkan teknologinya juga dirancang untuk mampu menyerap energi gelombang ultrasonik dan aliran darah pemakainya. Dengan teknologi tersebut, maka akan dihasilkan 800 nanoamper dan 20 milivolt. Untuk menghasilkan energi listrik yang lebih besar, maka sistem tersebut bisa digunakan di seluruh kain.
Zhong Lin Wang, profesor di School Materials Science and Engineering di Georgia Institute of Technology, mengatakan,”Nanogenerator dalam bentuk serat kain akan menjadi cara yang mudah dan ekonomis untuk menangkap energi dari gerakan fisik. Jika kami bisa mengkombinasikan serat-serat tersebut dalam dua atau tiga lapisan tipis dalam sebuah baju, kami akan memberikan sebuah sumber energi yang fleksibel, bisa dilipat dan dikenakan.”
Riset tersebut didanai oleh National Science Foundation, Departemen Energi Amerika Serikat dan Emory-Georgia Tech nanotechnology Center for Personalized and Predictive Oncology.
Hati-hati dengan mode standby peralatan elektronik 4 April 2008
Posted by vikikurdiansyah in power engineering.add a comment
Berdasar perkiraan terakhir, sebesar 5% penggunaan listrik di Amerika Serikat oleh peralatan elektronik yang dibiarkan terhubung dengan jaringan dalam kondisi standby.
Sebuah fenomena, yang menurut para ahli termasuk mengkhawatirkan, sama halnya dengan naiknya harga minyak dan pemanasan global.
Menurut Departemen Energi Amerika Serikat, DOE, pada tahun 2010 persentase tersebut bisa mencapai 20%.
Di California sendiri, sebuah proposal yang terkait dengan masalah tersebut telah disetujui pembuat kebijakan. Proposal tersebut mengusulkan untuk menambahkan vampire electronics label terhadap suatu produk elektronik, yang menjelaskan berapa besar energi yang digunakan pada charger, komputer, DVD player, PlayStation, microwave atau coffee maker, pada saat ON, OFF atau dalam keadaan STANDBY.
Peralatan elektronik yang menggunakan display seperti penunjukan waktu atau kondisi peralatan tersebut juga mengkonsumsi listrik pada waktu standby. Tidak jauh beda halnya dengan peralatan yang membutuhkan pengisian baterai, seperti telepon seluler, PDA, laptop dan sebagainya, juga mengkonsumsi listrik, meskipun peralatan tersebut telah mencapai kapasitas pengisiannya.
”Tidak banyak orang yang tahu masalah ini,” ujar Dave Walton, direktur di Direct Energy, sebuah perusahaan jasa energi. ”Listrik yang digunakan untuk peralatan elektronik di rumah Anda, 40% nya digunakan peralatan elektronik dalam keadaan standy,” tambahnya.
Dia menyarankan agar peralatan komputer Anda, termasuk printer atau scanner, terhubung pada satu konektor AC (colokan listrik), yang bisa dimatikan setiap selesai digunakan.
International Energy Agency bahkan memperkirakan energi yang terpakai pada saat peralatan elektronik dalam keadaan standby sebesar 200 hingga 400 TerraWatt jam per tahun. Masih menurut IEA, Italia mengkonsumsi listrik sebesar 300 TW jam setiap tahunnya.
Sejalan dengan itu, Energy Star, program yang dikoordinasi oleh DOE dan US Environmental Protection Agency (EPA), mengidentifikasi beberapa peralatan yang mengkonsumsi energi lebih sedikit. Jika satu dari 10 rumah hanya menggunakan peralatan yang sesuai dengan program tersebut, Departemen Energi memperkirakan, akan terjadi pengurangan emisi karbon yang besarnya sama dengan menanam pohon seluas 1,7 juta acre atau sekitar 687990 hektar.
Peralatan elektronik canggih akan menjadi penyerap listrik terbesar 4 April 2008
Posted by vikikurdiansyah in power engineering.add a comment
TV layar datar, komputer dan peralatan elektronik lainnya yang berteknologi tinggi akan menjadi pengguna energi listrik hampir separuh dari total energi yang ada pada tahun 2020.
Menurut Energy Saving Trust (EST), sebuah lembaga konservasi energi yang didirikan pada tahun 1993 oleh pemerintah Inggris, produk elektronik akan mengambil alih posisi peralatan rumah tangga dan lampu yang saat ini menjadi pengguna energi listrik terbesar di rumah tangga.
Menurut EST, teknologi baru yang ada sekarang cenderung lebih boros energi dibandingkan dengan teknologi sebelumnya. Dan banyak dari produk tersebut yang dibiarkan dalam kondisi stand by daripada mematikannya. Bahkan beberapa produk canggih tersebut tidak mempunyai tombol ‘OFF’.
Pada tahun 1982, hanya sekitar 3% dari rumah tangga yang mempunyai komputer. Sementara saat ini, di Inggris sekitar 60% rumah tangga yang mempunyai komputer. Tidak berbeda jauh dengan printer, yang semula sebesar 0,7% menjadi 58%.
Banyak rumah yang kini mempunyai TV lebih dari satu, dan konsumen juga mempunyai kecenderungan untuk membeli TV dengan ukuran layar yang lebih lebar. Padahal layar lebar menggunakan energi yang lebih besar pula.
Di tahun 2020, semua televisi yang dalam keadaan standby akan menyerap 1,4% dari keseluruhan energi listrik di rumah tangga.
Meskipun beberapa produsen berusaha membuat produk yang lebih hemat energi, ternyata masih ada beberapa produk radio digital yang menyerap energi listrik sebesar 4 kali dibandingkan dengan model analog-nya.