06.07.08

biogas dari batang dan tangkai padi

Ditulis dalam power engineering pada 2:01 am oleh vikikurdiansyah

Indonesia merupakan negara agraris yang banyak memproduksi padi. Limbah hasil panen padi (batang dan tangkainya) atau lebih familiar dikenal dengan “sekam”.Biasanya sehabis panen, limbah ini langsung dibakar. Para petani menganggap limbah itu tidak bermanfaat lagi.

Namun berbeda dengan Cina, yang mengaku negara penghasil padi terbesar di dunia (sumber: energipotal.com). Setiap tahunnya limbah padi yang didapat setelah panen mencapai 230 juta ton.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh para peneliti Cina, salah satunya bernama Xiujin Li , melaporkan bahwa mereka telah melakukan penelitian untuk mendapatkan biofuel dari limbah padi. Penelitian mereka yang rencananya akan diterbitkan di jurnal Energy & Fuels, America Chemical Society, memaparkan suatu metode untuk mendorong produksi biofuel hingga 65%.

Limbah padi selama ini belum dimanfaatkan untuk biogas karena selulose yang dimilikinya mempunyai struktur fisika dan kimia yang kompleks tidak mudah diurai bakteri.

Xiujin Li dan rekan-rekannya memberikan perlakuan batang padi dengan sodium hydroxide terlebih dulu, sebelum diberikan pada bakteri untuk difermentasi menjadi biogas. Perlakuan awal tersebut dapat meningkatkan produksi biogas dengan terbentuknya lebih banyak selulose dan komposisi lain di dalam batang padi tersebut. Tiga fasilitas prototip hingga kini telah dibangun di Cina menggunakan teknologi tersebut.

Bagaimana dengan Indonesia yang memiliki sumber limbah padi yang cukup potensial untuk mengahasilkan biofuel. Ini adalah tantangan kita bersama untuk mengoptimalkan potensi limbah padi

04.20.08

new technology to produce electric energy from water

Ditulis dalam power engineering pada 1:39 am oleh vikikurdiansyah

PLTA memang menghasilkan listrik yang bersumber dari sumber energi terbarukan dan tanpa menimbulkan emisi, tetapi untuk skala besar masih banyak masalah-masalah yang harus dihadapi. Besarnya biaya untuk pembangunan dan pemeliharaan,
kebutuhan lahan yang sangat luas dan efek samping yang diakibatkan terhadap lingkungan.

Permasalahan-permasalahan tersebut menjadi dasar bagi http://bourneenergy.com>Bourne Energy untuk mengembangkan teknologi dengan menggunakan sistem yang terdiri dari turbin air berbentuk propeler, stabiliser, sistem transmisi dan pengikat serta generator dan sistem kontrolnya dalam sebuah modul.

Menurut http://bourneenergy.com>Bourne Energy, arus sungai mempunyai kelebihan dibandingkan dengan angin ataupun matahari yang cenderung lebih dipengaruhi oleh cuaca, sementara arus sungai mempunyai aliran yang tetap dan tidak banyak mengalami perubahan hingga ratusan tahun. Selain itu, air mempunyai berat jenis yang lebih besar dibandingkan dengan udara, dan hal itu berarti bahwa potensi energi yang bisa dihasilkan 321.800 km sungai-sungai besar di dunia lebih besar dibandingkan dengan energi yang bersumber dari angin.

Energi listrik yang dihasilkan dari air mengalami peningkatan dari 16% di tahun 2003 hingga 19% di saat ini. Sementara energi angin hanya mengalami peningkatan pertumbuhan sebesar kurang dari 1%. Berdasar perhitungan perusahaan tersebut, energi yang bersumber dari air memberikan 6,5% suplai listrik di Amerika Serikat, lebih besar dibanding listrik yang bersumber dari biomassa, geothermal, surya dan angin.

RiverStar, teknologi yang dikembangkan http://bourneenergy.com>Bourne Energy ditujukan untuk mengambil energi dari sungai. Kapasitas yang dihasilkan dari teknologi tersebut adalah 50 kW dengan kecepatan arus sungai minimal 4 knot atau sekitar 2 meter per detik.

Sementara untuk memanfaatkan gelombang laut, Bourne Energy menyiapkan teknologi TidalStar, dengan dua propeler yang saling membelakangi. Penempatan propeler dengan posisi tersebut dimaksudkan untuk bisa menangkap energi dari dua arah, ketika arus laut menuju dan meninggalkan propeler. Sedangkan untuk aplikasi di lautan, teknologi yang dipersiapkan untuk itu adalah OceanStar.

Menurut perusahaan tersebut, semua teknologi yang dikembangkannya bisa digunakan untuk menghasilkan energi listrik yang lebih besar dengan menghubungkan lebih dari satu modul-modul yang ada. Bahkan untuk RiverStar, mereka menyatakan
bahwa bagian atas dari modul bisa disamarkan dengan menutupinya menggunakan tanaman ataupun lainnya.

04.04.08

energi listrik dari revolving door

Ditulis dalam power engineering pada 12:50 pm oleh vikikurdiansyah

Beberapa desainer di New York City mempunyai konsep menarik untuk menghasilkan energi listrik dari pintu sebuah bangunan komersial yang dilewati banyak orang.

Konsep yang ditawarkan para desainer yang bekerja di Fluxxlab Studio tersebut adalah melakukan modifikasi pada pintu putar (revolving door). Revolution Door, demikian mereka menamakan konsepnya, hanya melakukan perubahan dengan menambahkan generator pada poros pintu bagian atas. Desain generator yang digunakan pun berbeda dengan generator pada umumnya. Perbedaan ini hanya pada bentuk desain dan tidak berbeda dari prinsip kerja generator.

Ketika seseorang melewati pintu tersebut, maka pintu akan terdorong dan menghasilkan putaran pada generator. Bisa dibayangkan, pada bangunan komersial, akan ada banyak orang yang keluar dan masuk melalui pintu tersebut, meski frekuensinya tidak terus menerus. Alhasil, hasil setiap putaran generator bisa disimpan ke dalam sebuah baterai untuk dipergunakan kemudian.

Prinsip tersebut sebenarnya tidak berbeda jauh dengan turbin pada pembangkit listrik tenaga air ataupun turbin angin, hanya saja kontinyuitasnya berbeda.

Fluxxlab sendiri mendapatkan bantuan dana dari Eyebeam Art and Technlogy Center serta New York University Sustainaability Fund.

Sebuah ide kreatif dan inovatif yang bisa diterapkan untuk gedung-gedung komersial, stasiun kereta api, bandara dan tempat-tempat yang ramai dikunjungi orang.

Kain berteknologi nanogenerator, menghasilkan listrik dari lingkungan

Ditulis dalam power engineering pada 12:34 pm oleh vikikurdiansyah

Nanoteknologi masih menjadi alternatif para ilmuwan untuk mengembangkan teknologi guna menangkap berbagai bentuk energi. ”Baju penghasil listrik” adalah salah satu yang menerapkan keunggulan nanoteknologi.

Para peneliti menggunakan sepasang serat kain yang dilapisi dengan kabel berskala nano dan terbuat dari zinc oksida untuk menghasilkan arus listrik. Penggunaan sepasang serat kain tersebut pada dasarnya untuk mendapatkan efek piezoelektrik.

Piezoelektrik akan mengubah energi kinetik yang mengenai ”baju” tersebut menjadi energi listrik. Gerakan orang yang mengenakannya ataupun tiupan angin akan menggerakkan kain yang menempel di tubuh orang tersebut menjadi arus listrik yang bisa digunakan untuk mengisi arus listrik peralatan portabel yang dibawa oleh orang tersebut. Bahkan teknologinya juga dirancang untuk mampu menyerap energi gelombang ultrasonik dan aliran darah pemakainya. Dengan teknologi tersebut, maka akan dihasilkan 800 nanoamper dan 20 milivolt. Untuk menghasilkan energi listrik yang lebih besar, maka sistem tersebut bisa digunakan di seluruh kain.

Zhong Lin Wang, profesor di School Materials Science and Engineering di Georgia Institute of Technology, mengatakan,”Nanogenerator dalam bentuk serat kain akan menjadi cara yang mudah dan ekonomis untuk menangkap energi dari gerakan fisik. Jika kami bisa mengkombinasikan serat-serat tersebut dalam dua atau tiga lapisan tipis dalam sebuah baju, kami akan memberikan sebuah sumber energi yang fleksibel, bisa dilipat dan dikenakan.”

Riset tersebut didanai oleh National Science Foundation, Departemen Energi Amerika Serikat dan Emory-Georgia Tech nanotechnology Center for Personalized and Predictive Oncology.

Hati-hati dengan mode standby peralatan elektronik

Ditulis dalam power engineering pada 12:28 pm oleh vikikurdiansyah

Berdasar perkiraan terakhir, sebesar 5% penggunaan listrik di Amerika Serikat oleh peralatan elektronik yang dibiarkan terhubung dengan jaringan dalam kondisi standby.

Sebuah fenomena, yang menurut para ahli termasuk mengkhawatirkan, sama halnya dengan naiknya harga minyak dan pemanasan global.

Menurut Departemen Energi Amerika Serikat, DOE, pada tahun 2010 persentase tersebut bisa mencapai 20%.

Di California sendiri, sebuah proposal yang terkait dengan masalah tersebut telah disetujui pembuat kebijakan. Proposal tersebut mengusulkan untuk menambahkan vampire electronics label terhadap suatu produk elektronik, yang menjelaskan berapa besar energi yang digunakan pada charger, komputer, DVD player, PlayStation, microwave atau coffee maker, pada saat ON, OFF atau dalam keadaan STANDBY.

Peralatan elektronik yang menggunakan display seperti penunjukan waktu atau kondisi peralatan tersebut juga mengkonsumsi listrik pada waktu standby. Tidak jauh beda halnya dengan peralatan yang membutuhkan pengisian baterai, seperti telepon seluler, PDA, laptop dan sebagainya, juga mengkonsumsi listrik, meskipun peralatan tersebut telah mencapai kapasitas pengisiannya.

”Tidak banyak orang yang tahu masalah ini,” ujar Dave Walton, direktur di Direct Energy, sebuah perusahaan jasa energi. ”Listrik yang digunakan untuk peralatan elektronik di rumah Anda, 40% nya digunakan peralatan elektronik dalam keadaan standy,” tambahnya.

Dia menyarankan agar peralatan komputer Anda, termasuk printer atau scanner, terhubung pada satu konektor AC (colokan listrik), yang bisa dimatikan setiap selesai digunakan.

International Energy Agency bahkan memperkirakan energi yang terpakai pada saat peralatan elektronik dalam keadaan standby sebesar 200 hingga 400 TerraWatt jam per tahun. Masih menurut IEA, Italia mengkonsumsi listrik sebesar 300 TW jam setiap tahunnya.

Sejalan dengan itu, Energy Star, program yang dikoordinasi oleh DOE dan US Environmental Protection Agency (EPA), mengidentifikasi beberapa peralatan yang mengkonsumsi energi lebih sedikit. Jika satu dari 10 rumah hanya menggunakan peralatan yang sesuai dengan program tersebut, Departemen Energi memperkirakan, akan terjadi pengurangan emisi karbon yang besarnya sama dengan menanam pohon seluas 1,7 juta acre atau sekitar 687990 hektar.

Halaman berikutnya