jump to navigation

tembakau penghasil biofuel 9 Januari 2010

Posted by vikikurdiansyah in renewable energy.
add a comment

Ternyata tembakau yang biasanya digunakan sebagai bahan baku rokok bisa dimanfaatkan untuk kepentingan yang lebih bermanfaat. Bila  digunakan untuk rokok kemungkinan ada penyakit yang timbul bahkan hingga menyebabkan kematian. Namun bila dimanfaatkan untuk yang lain, tembakau bisa digunakan sebagai bahan untuk biofuel. Seperti yang dilansir di www.planethijau.com berikut ini

Vyacheslav Andrianov, Ph.D., profesor asisten Cancer Biology di universitas tersebut, menyatakan bahwa berdasar penelitian yang telah dilakukan timnya, tembakau sebagai bahan utama pembuat rokok ternyata bisa menghasilkan biofuel lebih efisien dibandingkan tanaman pangan lainnya.

”Tembakau sangat menarik untuk diimplementasikan sebagai biofuel karena ide yang diambil adalah menggunakan tanaman yang tidak digunakan dalam produksi makanan. Kami juga telah menemukan metode untuk merekayasa secara genetik tanaman tersebut sehingga daun-daunnya bisa menghasilkan lebih banyak minyak. Dalam hasil penelitian, tembakau rekayasa kami menghasilkan 20 kali lipat minyak dari daunnya,” papar Dr. Andrianov.

Saat ini bagian terbanyak dari tembakau yang menghasilkan minyak adalah bijinya, kurang lebih sebesar 40% per berat kering. Hanya saja, tembakau menghasilkan biji yang jumlahnya relatif terbatas, kurang lebih 1,5 ton per hektar.

Sedangkan daun tembakau umumnya hanya menghasilkan 1,7% hingga 4% minyak per berat kering. Untuk menghasilkan minyak lebih banyak, ada dua gen yang bisa direkayasa, yaitu diacyglycerol acytransferase (DGAT) atau leafy cotyledon 2 (LEC2). Modifikasi gen DGAT menghasilkan minyak hingga 5,8% per berat kering daun, atau hampir dua kali lipat normalnya. Sedangkan modifikasi gen LEC2 menghasilkan 6,8% minyak.

”Berdasar data penelitian kami, tembakau menunjukkan potensi menariknya sebagai alternatif tanaman penghasil energi, dan sekaligus menjadi model bagi pengembangan tanaman berpotensi biomassa tinggi untuk produksi biofuel,” jelas Dr. Andrianov. Jika penelitian tersebut berkembang lebih jauh dan menunjukkan hasil yang memuaskan, maka kemungkinan tembakau akan mengalami kenaikan harga sama seperti tanaman pangan yang digunakan sebagai biofuel, artinya para perokok harus merogoh koceknya lebih dalam hanya untuk menikmati asap dari sebatang rokok.
[Thomas Jefferson University]

biogas dari batang dan tangkai padi 7 Juni 2008

Posted by vikikurdiansyah in renewable energy.
12 comments

Indonesia merupakan negara agraris yang banyak memproduksi padi. Limbah hasil panen padi (batang dan tangkainya) atau lebih familiar dikenal dengan “sekam”.Biasanya sehabis panen, limbah ini langsung dibakar. Para petani menganggap limbah itu tidak bermanfaat lagi.

Namun berbeda dengan Cina, yang mengaku negara penghasil padi terbesar di dunia (sumber: energipotal.com). Setiap tahunnya limbah padi yang didapat setelah panen mencapai 230 juta ton.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh para peneliti Cina, salah satunya bernama Xiujin Li , melaporkan bahwa mereka telah melakukan penelitian untuk mendapatkan biofuel dari limbah padi. Penelitian mereka yang rencananya akan diterbitkan di jurnal Energy & Fuels, America Chemical Society, memaparkan suatu metode untuk mendorong produksi biofuel hingga 65%.

Limbah padi selama ini belum dimanfaatkan untuk biogas karena selulose yang dimilikinya mempunyai struktur fisika dan kimia yang kompleks tidak mudah diurai bakteri.

Xiujin Li dan rekan-rekannya memberikan perlakuan batang padi dengan sodium hydroxide terlebih dulu, sebelum diberikan pada bakteri untuk difermentasi menjadi biogas. Perlakuan awal tersebut dapat meningkatkan produksi biogas dengan terbentuknya lebih banyak selulose dan komposisi lain di dalam batang padi tersebut. Tiga fasilitas prototip hingga kini telah dibangun di Cina menggunakan teknologi tersebut.

Bagaimana dengan Indonesia yang memiliki sumber limbah padi yang cukup potensial untuk mengahasilkan biofuel. Ini adalah tantangan kita bersama untuk mengoptimalkan potensi limbah padi

new technology to produce electric energy from water 20 April 2008

Posted by vikikurdiansyah in renewable energy.
add a comment

PLTA memang menghasilkan listrik yang bersumber dari sumber energi terbarukan dan tanpa menimbulkan emisi, tetapi untuk skala besar masih banyak masalah-masalah yang harus dihadapi. Besarnya biaya untuk pembangunan dan pemeliharaan,
kebutuhan lahan yang sangat luas dan efek samping yang diakibatkan terhadap lingkungan.

Permasalahan-permasalahan tersebut menjadi dasar bagi http://bourneenergy.com>Bourne Energy untuk mengembangkan teknologi dengan menggunakan sistem yang terdiri dari turbin air berbentuk propeler, stabiliser, sistem transmisi dan pengikat serta generator dan sistem kontrolnya dalam sebuah modul.

Menurut http://bourneenergy.com>Bourne Energy, arus sungai mempunyai kelebihan dibandingkan dengan angin ataupun matahari yang cenderung lebih dipengaruhi oleh cuaca, sementara arus sungai mempunyai aliran yang tetap dan tidak banyak mengalami perubahan hingga ratusan tahun. Selain itu, air mempunyai berat jenis yang lebih besar dibandingkan dengan udara, dan hal itu berarti bahwa potensi energi yang bisa dihasilkan 321.800 km sungai-sungai besar di dunia lebih besar dibandingkan dengan energi yang bersumber dari angin.

Energi listrik yang dihasilkan dari air mengalami peningkatan dari 16% di tahun 2003 hingga 19% di saat ini. Sementara energi angin hanya mengalami peningkatan pertumbuhan sebesar kurang dari 1%. Berdasar perhitungan perusahaan tersebut, energi yang bersumber dari air memberikan 6,5% suplai listrik di Amerika Serikat, lebih besar dibanding listrik yang bersumber dari biomassa, geothermal, surya dan angin.

RiverStar, teknologi yang dikembangkan http://bourneenergy.com>Bourne Energy ditujukan untuk mengambil energi dari sungai. Kapasitas yang dihasilkan dari teknologi tersebut adalah 50 kW dengan kecepatan arus sungai minimal 4 knot atau sekitar 2 meter per detik.

Sementara untuk memanfaatkan gelombang laut, Bourne Energy menyiapkan teknologi TidalStar, dengan dua propeler yang saling membelakangi. Penempatan propeler dengan posisi tersebut dimaksudkan untuk bisa menangkap energi dari dua arah, ketika arus laut menuju dan meninggalkan propeler. Sedangkan untuk aplikasi di lautan, teknologi yang dipersiapkan untuk itu adalah OceanStar.

Menurut perusahaan tersebut, semua teknologi yang dikembangkannya bisa digunakan untuk menghasilkan energi listrik yang lebih besar dengan menghubungkan lebih dari satu modul-modul yang ada. Bahkan untuk RiverStar, mereka menyatakan
bahwa bagian atas dari modul bisa disamarkan dengan menutupinya menggunakan tanaman ataupun lainnya.

Lautan Indonesia Sumber Baterai Raksasa 17 Januari 2008

Posted by vikikurdiansyah in inovasi, renewable energy.
15 comments

sejak Thomas Alfa Edison untuk pertamakalinya menciptakan bola lampu, listrik merupakan penemuan yang dapat mengubah wajah dunia pada awal abad XX. Berbagai aspek kehidupan seolah tidak bisa lepas dari pwenggunaan energi listrik.

Dalam era modern ini kebutuhan listrik mengalami lonjakan yang sangat besar. Bahkan dapat dikatakan manusia sudah sangat tergantung dengan energi listrik. Padamnya aliran listrik, membuat akvititas masyarakat menjadi terganggu, arus lalulintas terganggu dan bahkan hubungan yang lebih luas antar negara juga dapat terpengaruh akibat padamnya listrik.

Persoalannya cadangan sumber energi yang sebagian besar menggunakan minyak bumi, jumlahnya semakin berkurang. Bahkan memunculkan kekhawatiran akan adanya krisis energi. Berbagai upaya dilakukan untuk mendapatkan sumber energi minyak bumi. Belakangn ini AS berencana menyerang Irak, salah satu alasannya adalah mencari sumber minyak bumi.

Untuk mengatasi berkurangnya minyak bumi sebagai sumber energi, mulai dikembangkan sumber energi alternatif seperti panas bumi, gelombang air laut, sinar matahari dan angin. Bahkan dalam dasa warsa ini juga digunakan energi nuklir untuk mendapatkan listrik.

Hanya saja dari berbagai sumber menyebutkan bahwa Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) dan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN), banyak menimbulkan pencemaran lingkungan. Seperti adanya Gas SOx yang dikenal sebagai sumber gangguan paru-paru dan penyakit pernafasan. Gas NOx yang bersama dengan gas SOx ditengarai penyebab fenomena hujan asam yang banyak terjadi di negara maju dan berkembang. Sedangkan kerugian yang ditimbulkan akibat PLTN antara lain, radiasi carbon 14 (C-14) dan gas radon yang terpancar dari uranium bagi pekerja di pertambangannya. radiasi gas Xenon atau Krypton, termasuk limbah nuklir yang harus mendapat penanganan khusus.

Untuk itu perlu dikembangkan sumber energi alternatif. Salah satu yang sampai saat ini belum banyak diteliti adalah energi air laut (bukan gelombangnya). Energi yang dihasilkan dari air laut memiliki keunggulan, seperti ramah lingkungan, dan tidak membutuhkan banyak dana.

Padahal Indonesia yang terletak di wilayah garis katulistiwa hampir sepanjang tahun mendapatkan sinar matahari, juga memiliki lautan yang sangat luas, karena 2/3nya terdiri dari lautan. Garis lingkaran pantai (coastal circumference) sepanjang 80.917 kilometer. Panjang itu lebih dari jumlah garis pantai USA, Australia dan semua daratan non-benua di seluruh dunia, yang panjangnya hanya 31.545 kilometer. Artinya Indonesia memiliki sumber energi potensial yang sangat besar dan tidak ada habisnya. Dengan kondisi alam ini sudah semestinya bangsa Indonesia tidak perlu khawatir akan kehabisan sumber energi, bahkan potensi air laut mampu memenuhi empat kali kebutuhan listrik dunia.

Besarnya potensi air laut sebagai sumber energi ini telah menarik perhatian MSA Sastroamidjojo MScE PhD, Presiden Direktur Yayasan Langit Lintang Samudra (LLS) untuk lebih mendalami potensi energi yang dihasilkan oleh air laut. Setelah berkutat dengan berbagai teori dan penelitian lapangan, dia berhasil menemukan apa yang dinamakan sebagai Baterai Laut. Dan laut Indonesia merupakan baterai raksasa yang dapat memenuhi kebutuhan listrik dunia.

Dari percobaan sederhana yang dilakukan LLS, dua liter air laut yang diambil dari pantai Parangtritis, sebagai elektrolit dialirkan ke rangkaian Grafit (anoda) dan Seng atau Zn (katoda) mampu menghasilkan tegangan 1,6 volt. Percobaan awal, ungkap Sastroamidjojo yang didampingi Wakil Direktur LLS, Kusmanto, ketika ditemui “PR” di laboratoriumnya di Sambisari, Purwomartani, Kalasan, Sleman Yogyakarta, katoda yang digunakan adalah arang aktif dari batok kelapa, arang kayu biasa.

Ternyata, arus listrik yang dihasilkan dari arang batok kelapa dan kayu tidak begitu besar. Namun begitu kedua arang dicampur, arus listrik yang dihasilkan lebih besar. Untuk mempermudah kemudian digunakan anoda Grafit Sentolo (percampuran antara arang batok kelapa dengan arang kayu).

Dalam percobaan sederhana dipakai dua buah gelas yang dimasukan elektroda Grafit Senotolo dan Seng Galvanis (seng yang telah dilapisi zat kimia sehingga menghambat adanya korosi, seng yang biasa digunakan sebagai atap rumah). Rangkaian plus dan minus tersebut kemudian dialirkan ke lampu pijar (bohlam). Seketika itu juga lampu pijar menyala. Dan semakin banyak gelas atau sel yang dirangkai, maka nyala lampu juga semakin terang.

Percobaan baterai laut dalam skala laboratorium ini kemudian diperbesar, yakni menggunakan air laut sebanyak 400 liter, dan accu (aki) bekas 12 volt. Aki bekas yang sebagian selnya sudah rusak tersebut kemudian dibuka, dan sel baterainya dibersihkan dengan air bersih biasa dengan maksud membuang kotoran yang ada di dalamnya. Sementara itu, pada bagian bawah aki diberi lubang sebanyak sel yang ada (dalam percobaan dibuat enam lubang, karena aki yang digunakan 12 volt, setiap sel dua volt). Pada bagian bawah lubang aki diberi tempat atau wadah untuk menampung air laut, yang keluar dari bagian bawah aki. Selanjutnya air tersebut dipompa kedalam ke dalam bak yang posisinya lebih tinggi, dengan bantuan selang air laut dapat kembali masuk ke dalam aki atau terjadi sirkulasi. Fungsi air laut dalam baterai adalah sebagai pengganti asam sulfat atau air aki.

Sebelumnya sekat yang terbuat dari met dipasang kembali, hal ini untuk menyelidiki ketahanan terhadap korosi. Sekat dari met dipasang kembali agar antara logam Pb (timbal) dan PbO (timbal oksidan) tidak berhubungan. Air laut tersebut juga ditimbang, untuk mengetahui berat jenisnya, 1.025 gr/liter, sedangkan derasnya aliran air yang melalui lubang baterai diukur debitnya. Hasil pengukuran 900 mili liter per lima detik per dua lubang sel.

Tegangan yang ada dalam baterai yang telah dialiri air laut, hasil pengukurannya antara 9,2 – 11,8 volt. Setelah empat hari air laut tersebut digunakan secara terus menerus, tegangan yang dihasilkan juga menurun. “Lampu mobil yang kita nayalakan dengan baterai air laut ini ternayta nyalanya lebih terang dibandingkan lampu mobil,” ungkap Kusmanto yang telah bergabung dengan LLS sejak berdiri tahun 1994.

Sebelum menggunakan Seng Galvanis yang mudah diperoleh di sembarang tempat, percobaan untuk mengetahui energi listrik air laut ini juga menggunakan katoda dari besi, stainles steel, dan seng (zn) murni. Dari percobaan yang paling sederhana, ternyata dari Seng Galvanis, kita mendapat aurs listrik cukup besar. Dan saat katoda mengguanka seng asli, energi yang dihasilkan menjadi lebih besar, dalam arti lampu yang dijadikan indikatornya menyala lebih terang.

Dijelaskan, salah satu tanda bahwa air laut mengandung arus listrik adalah adanya unsur Natrium Chlorida (NaCl) yang tinggi dan oleh H2O diuraikan menjadi Na+ dan Cl-. Dengan adanya partikel muatan bebas itu, maka ada arus listrik.

Pada prinsipnya, air laut yang mengandung garam masuk ke dalam baterai (tabung aki), sehingga muncul reaksi yang menimbulkan tegangan. Besarnya arus dan tegangan yang dihasilkan dari baterai ini tergantung dari kapasitas baterai atau aki. Semakin banyak aki yang digunakan dan tekanan air laut sekamin besar, maka arus atau tegangan yang dihasilkan juga akan semakin tinggi. Dengan demikian, apabila percobaan dilakukan di pantai, maka energi listrik yang dihasilkan juga semakin besar. Dengan kata lain, samudra merupakan baterai laut raksasa.

Di laboratoriumnya yang terlertak di pinggiran kota Yogyakarta, Sarstoamidjojo yang sudah berusia 81 tahun ini, LLS yang dipimpinnya tidak hanya meneliti energi air laut tetapi juga meneliti energi angin, tenaga surya dan tenaga laut.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 62 pengikut lainnya.