jump to navigation

Lautan Indonesia Sumber Baterai Raksasa 17 Januari 2008

Posted by vikikurdiansyah in inovasi, renewable energy.
trackback

sejak Thomas Alfa Edison untuk pertamakalinya menciptakan bola lampu, listrik merupakan penemuan yang dapat mengubah wajah dunia pada awal abad XX. Berbagai aspek kehidupan seolah tidak bisa lepas dari pwenggunaan energi listrik.

Dalam era modern ini kebutuhan listrik mengalami lonjakan yang sangat besar. Bahkan dapat dikatakan manusia sudah sangat tergantung dengan energi listrik. Padamnya aliran listrik, membuat akvititas masyarakat menjadi terganggu, arus lalulintas terganggu dan bahkan hubungan yang lebih luas antar negara juga dapat terpengaruh akibat padamnya listrik.

Persoalannya cadangan sumber energi yang sebagian besar menggunakan minyak bumi, jumlahnya semakin berkurang. Bahkan memunculkan kekhawatiran akan adanya krisis energi. Berbagai upaya dilakukan untuk mendapatkan sumber energi minyak bumi. Belakangn ini AS berencana menyerang Irak, salah satu alasannya adalah mencari sumber minyak bumi.

Untuk mengatasi berkurangnya minyak bumi sebagai sumber energi, mulai dikembangkan sumber energi alternatif seperti panas bumi, gelombang air laut, sinar matahari dan angin. Bahkan dalam dasa warsa ini juga digunakan energi nuklir untuk mendapatkan listrik.

Hanya saja dari berbagai sumber menyebutkan bahwa Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) dan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN), banyak menimbulkan pencemaran lingkungan. Seperti adanya Gas SOx yang dikenal sebagai sumber gangguan paru-paru dan penyakit pernafasan. Gas NOx yang bersama dengan gas SOx ditengarai penyebab fenomena hujan asam yang banyak terjadi di negara maju dan berkembang. Sedangkan kerugian yang ditimbulkan akibat PLTN antara lain, radiasi carbon 14 (C-14) dan gas radon yang terpancar dari uranium bagi pekerja di pertambangannya. radiasi gas Xenon atau Krypton, termasuk limbah nuklir yang harus mendapat penanganan khusus.

Untuk itu perlu dikembangkan sumber energi alternatif. Salah satu yang sampai saat ini belum banyak diteliti adalah energi air laut (bukan gelombangnya). Energi yang dihasilkan dari air laut memiliki keunggulan, seperti ramah lingkungan, dan tidak membutuhkan banyak dana.

Padahal Indonesia yang terletak di wilayah garis katulistiwa hampir sepanjang tahun mendapatkan sinar matahari, juga memiliki lautan yang sangat luas, karena 2/3nya terdiri dari lautan. Garis lingkaran pantai (coastal circumference) sepanjang 80.917 kilometer. Panjang itu lebih dari jumlah garis pantai USA, Australia dan semua daratan non-benua di seluruh dunia, yang panjangnya hanya 31.545 kilometer. Artinya Indonesia memiliki sumber energi potensial yang sangat besar dan tidak ada habisnya. Dengan kondisi alam ini sudah semestinya bangsa Indonesia tidak perlu khawatir akan kehabisan sumber energi, bahkan potensi air laut mampu memenuhi empat kali kebutuhan listrik dunia.

Besarnya potensi air laut sebagai sumber energi ini telah menarik perhatian MSA Sastroamidjojo MScE PhD, Presiden Direktur Yayasan Langit Lintang Samudra (LLS) untuk lebih mendalami potensi energi yang dihasilkan oleh air laut. Setelah berkutat dengan berbagai teori dan penelitian lapangan, dia berhasil menemukan apa yang dinamakan sebagai Baterai Laut. Dan laut Indonesia merupakan baterai raksasa yang dapat memenuhi kebutuhan listrik dunia.

Dari percobaan sederhana yang dilakukan LLS, dua liter air laut yang diambil dari pantai Parangtritis, sebagai elektrolit dialirkan ke rangkaian Grafit (anoda) dan Seng atau Zn (katoda) mampu menghasilkan tegangan 1,6 volt. Percobaan awal, ungkap Sastroamidjojo yang didampingi Wakil Direktur LLS, Kusmanto, ketika ditemui “PR” di laboratoriumnya di Sambisari, Purwomartani, Kalasan, Sleman Yogyakarta, katoda yang digunakan adalah arang aktif dari batok kelapa, arang kayu biasa.

Ternyata, arus listrik yang dihasilkan dari arang batok kelapa dan kayu tidak begitu besar. Namun begitu kedua arang dicampur, arus listrik yang dihasilkan lebih besar. Untuk mempermudah kemudian digunakan anoda Grafit Sentolo (percampuran antara arang batok kelapa dengan arang kayu).

Dalam percobaan sederhana dipakai dua buah gelas yang dimasukan elektroda Grafit Senotolo dan Seng Galvanis (seng yang telah dilapisi zat kimia sehingga menghambat adanya korosi, seng yang biasa digunakan sebagai atap rumah). Rangkaian plus dan minus tersebut kemudian dialirkan ke lampu pijar (bohlam). Seketika itu juga lampu pijar menyala. Dan semakin banyak gelas atau sel yang dirangkai, maka nyala lampu juga semakin terang.

Percobaan baterai laut dalam skala laboratorium ini kemudian diperbesar, yakni menggunakan air laut sebanyak 400 liter, dan accu (aki) bekas 12 volt. Aki bekas yang sebagian selnya sudah rusak tersebut kemudian dibuka, dan sel baterainya dibersihkan dengan air bersih biasa dengan maksud membuang kotoran yang ada di dalamnya. Sementara itu, pada bagian bawah aki diberi lubang sebanyak sel yang ada (dalam percobaan dibuat enam lubang, karena aki yang digunakan 12 volt, setiap sel dua volt). Pada bagian bawah lubang aki diberi tempat atau wadah untuk menampung air laut, yang keluar dari bagian bawah aki. Selanjutnya air tersebut dipompa kedalam ke dalam bak yang posisinya lebih tinggi, dengan bantuan selang air laut dapat kembali masuk ke dalam aki atau terjadi sirkulasi. Fungsi air laut dalam baterai adalah sebagai pengganti asam sulfat atau air aki.

Sebelumnya sekat yang terbuat dari met dipasang kembali, hal ini untuk menyelidiki ketahanan terhadap korosi. Sekat dari met dipasang kembali agar antara logam Pb (timbal) dan PbO (timbal oksidan) tidak berhubungan. Air laut tersebut juga ditimbang, untuk mengetahui berat jenisnya, 1.025 gr/liter, sedangkan derasnya aliran air yang melalui lubang baterai diukur debitnya. Hasil pengukuran 900 mili liter per lima detik per dua lubang sel.

Tegangan yang ada dalam baterai yang telah dialiri air laut, hasil pengukurannya antara 9,2 – 11,8 volt. Setelah empat hari air laut tersebut digunakan secara terus menerus, tegangan yang dihasilkan juga menurun. “Lampu mobil yang kita nayalakan dengan baterai air laut ini ternayta nyalanya lebih terang dibandingkan lampu mobil,” ungkap Kusmanto yang telah bergabung dengan LLS sejak berdiri tahun 1994.

Sebelum menggunakan Seng Galvanis yang mudah diperoleh di sembarang tempat, percobaan untuk mengetahui energi listrik air laut ini juga menggunakan katoda dari besi, stainles steel, dan seng (zn) murni. Dari percobaan yang paling sederhana, ternyata dari Seng Galvanis, kita mendapat aurs listrik cukup besar. Dan saat katoda mengguanka seng asli, energi yang dihasilkan menjadi lebih besar, dalam arti lampu yang dijadikan indikatornya menyala lebih terang.

Dijelaskan, salah satu tanda bahwa air laut mengandung arus listrik adalah adanya unsur Natrium Chlorida (NaCl) yang tinggi dan oleh H2O diuraikan menjadi Na+ dan Cl-. Dengan adanya partikel muatan bebas itu, maka ada arus listrik.

Pada prinsipnya, air laut yang mengandung garam masuk ke dalam baterai (tabung aki), sehingga muncul reaksi yang menimbulkan tegangan. Besarnya arus dan tegangan yang dihasilkan dari baterai ini tergantung dari kapasitas baterai atau aki. Semakin banyak aki yang digunakan dan tekanan air laut sekamin besar, maka arus atau tegangan yang dihasilkan juga akan semakin tinggi. Dengan demikian, apabila percobaan dilakukan di pantai, maka energi listrik yang dihasilkan juga semakin besar. Dengan kata lain, samudra merupakan baterai laut raksasa.

Di laboratoriumnya yang terlertak di pinggiran kota Yogyakarta, Sarstoamidjojo yang sudah berusia 81 tahun ini, LLS yang dipimpinnya tidak hanya meneliti energi air laut tetapi juga meneliti energi angin, tenaga surya dan tenaga laut.

Komentar»

1. jefry ganteng - 30 April 2008

bagus sich bacaannya tp alangkah lebih baik agak spesifik gt biar tambah keren>>>>>>>>>>>>

2. vikikurdiansyah - 3 Mei 2008

insya Allah diusahakan 😀

3. Nidiar Sanggadin - 22 November 2008

Kalo NaCl bisa jadi listrik berarti NO2 kalo dah di saring ma penyaring polusi pabrik bisa juga ga ? kan soalnya setelah disaring pisah jadi N2+ ma O2-

4. rizal619 - 29 November 2008

nice blog bro..tulisannya bagus… 🙂

5. Bim2 - 2 Desember 2008

bos bs dunk ak dikasih yg lbh detail soal alenia nie..
Dijelaskan, salah satu tanda bahwa air laut mengandung arus listrik adalah adanya unsur Natrium Chlorida (NaCl) yang tinggi dan oleh H2O diuraikan menjadi Na+ dan Cl-. Dengan adanya partikel muatan bebas itu, maka ada arus listrik.
Nah yg aku tanyakan. Mengapa air laut bs sebagai elektrolt alam..
pakahpunya literaturnya… Ylng dbls lewt email ya… makasih byk

6. Bim2 - 2 Desember 2008

bos bs dunk ak dikasih yg lbh detail soal alenia nie..
Dijelaskan, salah satu tanda bahwa air laut mengandung arus listrik adalah adanya unsur Natrium Chlorida (NaCl) yang tinggi dan oleh H2O diuraikan menjadi Na+ dan Cl-. Dengan adanya partikel muatan bebas itu, maka ada arus listrik.
Nah yg aku tanyakan. Mengapa air laut bs sebagai elektrolt alam..
pakah punya literaturnya…Tlng dbls lewt email ya… makasih byk

7. oni' - 15 Januari 2009

itu air lautnya yg dgnkn elektrolit,klo rankaiannya tretutup trus bisa habis gk?klo gk bisa mngp lama klmaan tganganya bisa menurun?
maaf klo msih bnyak yang belum saya pelajari.

8. vikikurdiansyah - 15 Januari 2009

mas bim2

untuk air laut sebagai elektrolit alam belum ketemu literaturnya…
maap…

mas oni’

mungkin ada hubungannya dengan energi dari partikel yang bermuatan itu Na+ dan Cl-. energinya semakin lama semakin mengecil. karena sebagian energi diubah dalam bentuk panas pada lampu

maap klo belum bisa menjelaskan detail.. masih harus belajar lagi

9. apik - 20 Juli 2009

memang bner…

tpii tinggal bagai mna qt manfaatkannya…

10. vikikurdiansyah - 29 Juli 2009

perlu di teliti lebih lanjut supaya pemanfaatanya lebih maksimal. tugas kita senagai generasi penerus untuk memberikan yang terbaik bt bangsa.

yuk kerja sama biar indonesia makin maju

11. bagus - 14 September 2009

alamat penulis yang bisa dihubungi
ada g?

12. vikikurdiansyah - 5 Oktober 2009

alamat penulisnya gak tau jelasnya…. maap…

13. agung - 8 September 2010

@all: coba baca-2 lagi buku kimia/fisika smp apa malah ipa sd ya… . mengenai electrochemistry. sudah ada semuanya. mungkin dulu juga pernah bikin percobaan nancepin tembaga dan seng ke air jeruk/cuka/kentang dan semacamnya. dan bisa menyalakan lampu senter. prinsipnya kayak gitu lah.

14. vikikurdiansyah - 16 September 2010

makasih mas agung telah mampir ke blog saya…

saya belajarnya pas smp kayae mas….

15. agung - 16 September 2010

@viki: sama-2.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: