jump to navigation

jangan pernah diperbudak uang 14 September 2008

Posted by vikikurdiansyah in tauziyah.
trackback

Mengais rejeki benar-benar dijalan Allah adalah hal yang selalu sulit bagi orang yang memang enggan memberikan kerelaan hidupnya dijalan Allah. Hal ini sering kali saya lalui dengan begitu pelik.  Lebih peliknya, kadang kebutuhan ekonomi yang kian mencekik membuat menghamba pada seonggok berhala yang di sebut uang.

uang benar-benar memabukkan, sehingga hamba yang shaleh sekalipun di era ini merelakan hidupnya, hanya untuk semata-mata menjadi hamba BERHALA YANG DISEBUT UANG, hingga saya selalu teringat oleh perkataan seorang “zuhud”, yang hidup dengan mengacuhkan dunia dan merawat akhiratnya yaitu Ali Bin Abi Thalib RA.

Beliau selalu mengatakan ” Wahai dunia, bujuk dan rayulah orang selainku ! “

Ali Bin Abi Thalib RA, menyebutkan ” Dunia bagaikan cermin, disaat kita mengejarnya dia akan berlari menjauh dan disaat kita menjauh dia berlari mengejar kita”

Kalau orang hidup hanya mementingkan dunia semata, Ia hanya akan dibutakan olehnya dan hanya akan mendapat kesia-siaan, tapi orang yang tidak membutuhkan dunia dan bersikap bijaksana dalam hidup akan
meperoleh kedua-duanya harta dunia dan juga akhirat. (kata-kata mutiara Ali bin Abi Thalib RA)

Seorang yang menghamba pada berhala bernama “UANG” or “ADORING MONEY” selalu menjadi gelap mata sehingga dia sanggup menghalalkan cara, dengan cara yang paling rendah sekalipun, termasuk menjadi penjilat ataupun pemfitnah (naudzubilah himindzalik) .

Tidak memperdulikan orang lain dan menjadikan dirinya, sebagai yang “super egoistis” karena merasa uang adalah segala-galanya, dan semua bisa diatur dengan uang. Hingga uang dianggapnya kunci kehormatan dan martabatnya.

Ali Bin Abi Thalib RA, mengajarkan kata-kata dari mentornya Rasullullah SAW, bahwa sekalipun kita miskin, kehormatan dan martabat harus tetap dijunjung tinggi sehingga kita tidak menjadi rendah dimata manusia dan juga Allah. Artinya seorang yang lebih banyak memberi adalah puluhan kali lebih bermartabat dari seorang peminta-minta.

Karena dengan merasa melarat dan menjadi peminta maka kita akan dikendalikan oleh seorang, yang kita sebut penyokong atau juga big boss kita. Sehingga kita akan terbeli olehnya termasuk harga diri dan kehormatan kita. Dia akan memainkan peranannya dalam diri kita sekehendak hatinya. Menjadikan kita bulan-bulanan permainan orang tersebut, dan Jika dia orang serakah, maka kita akan jadi sasaran empuk cacian dan makian, karena kita terpaksa membelanya.

Jika dia orang munafik maka kita jauh lebih munafik daripada-nya. !.

Imam Ali as dan Istrinya tercinta Fathimah binti Rasulalullah SAW serta ahlul baitnya menjaga diri dan kehormatannya.

Dalam sebuah riwayat diceritakan bahwa suatu ketika Fathimah, didapati seorang sahabat muslim mengenakan “cadar” atau “cadur” yang penuh tambalan disana-sini, sehingga orang tersebut karena
prihatinnya menyampaikan ini kepada Rasulaullah SAW, tentang keadaan ini kemudian Rasulalullah SAW berkata ” Tahukah engkau wahai fulan, wanita itu adalah Fathimah Puteri Rasulallah SAW, Dia adalah Penghulu wanita semesta alam” Artinya Rasulalullah SAW sangat bangga akan kezuhudan keluarga Ahlul baitnya, sebagai teladan seluruh umat, bahwa yang dikatakan dunia tentang Kemiskinan adalah bukan merupakan suatu aib.

Selama didalam kemiskinan itu tumbuh nilai-nilai kemanusian yang lebih hakiki dibandingkan harta dunia dan seisinya. Nilai-nilai kemanusiaan inilah yang seharusnya menancap pada hati setiap muslim ” menurut saya, jangan pernah takut kekurangan rejeki, harta, ataupun uang” karena percayalah Allah sudah menjamin rejeki kita masing-masing.

Sekalipun kita ngoyo mencarinya, jika itu bukan rejeki kita, apalagi jika kita menghalalkan segala cara demi meraihnya, maka kita akan mendapatkan kesia-siaan. Sebaliknya selama kita bekerja Ikhlas, mencari rejeki demi mencapai ridho-Nya, maka rejeki akan mengalir dari sisi yang tidak kita duga-duga.

sepertinya dalam pikiran kita, orang yang kaya hartanya, pasti tentram hartanya, padahal tak jarang diantara mereka yang enggan menafkahkah hartanya, dijalan-Nya, meyakini dunia adalah segala-galanya, hingga dia dikafirkan oleh uangnya. Akan tetapi dia selalu lupa bahwa Allah-lah yang Maha Kaya. Dan kekayaan hanya sementara, apa yang menjadi milik Allah, sewaktu-waktu pasti akan kembali kepada-Nya.

Yang harus kita khawatirkan adalah apabila nilai-nilai kemanusiaan atau nilai yang membedakan kita sebagai manusia dengan hewan, harus hilang dalam diri kita hanya karena tergantikan oleh berhala yang disebut “UANG”

Maka, marilah kita bersama-sama menghitung, banyaknya senja yang membuat kita selalu diperbudak dengan “Uang”. Begitu banyakkah senja indah yang terlampaui, hanya karena kita mengejar materi.

Kapan kita bisa bersama menyongsong senja dengan kebahagiaan sebagai manusia ? Sekali lagi sebagai manusia !. Memperoleh kebahagiaan, untuk tidak diperbudak uang. Dan melewati serta menikmati senja dengan indahnya. Menekurinya dengan rasa syukur yang melimpah kehadirat-Nya. Bahwa keindahan setiap senja adalah Anugrah-Nya.

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: