jump to navigation

Aku, Valentine`s Day dan Seonggok Tumpukan Sampah 9 Februari 2009

Posted by vikikurdiansyah in Uncategorized.
trackback

Apa yang anda lakukan manakala hari Valentine`s Day (14 Februari) itu tiba? Aksikah, demokah, turun kejalan sambail meneriakan yel-yel, mengerumuni sekaligus merusak pusat peretaran seks, mengucapkan “Selamat Hari Valentineâ”, ataukah diam seribu bahasa.

Bila pertanyan itu di alamatkan padaku, maka aku tak akan menjawabnya. Terlebih lagi, melarang mereka untuk tidak melaksanakan acara Valentine. Namun, akan sedikit bercerita tentang kasih sayang. Sekedar pelipur lara di tengah-tengah kepenatan rutinitas bencana yang gak pernah lepas dari negeri ini.

Pasalnya momen ini merupakan hari bersejarah bagi kelompok tertentu. Mereka berusah ingin membagai kebahagiaan satu sama lain (kaum adam dan hawa) dalam bingkai cinta kasih. Meski terkadang disalahartikan. Hingga nyaris menuai protes dari golongan tertentu. Alih-alih mengikuti tradisi barat dan tak sesuai dengan budaya timur pun menjadi alasan mereka untuk berbuat semaunya.

Konon, memasuki awal abad keempat sebelum masehi, bangsa Romawi terbiasa mengadakan pesta bagi Dewa Lupercalia (Lupercus). Perhelatan akbar itu, dilaksanakan pada pertengahan bulan Februari. Tentunya, bersamaan dengan musim kawin burung.

Perayaan hajatan Lupercalia itu, dianggap belum berhasil manakala setiap laki-laki atau perempuan mendapatkan pasangan masing-masing. Uniknya lagi, perjodohan tadi digelar dengan cara setiap gadis harus menuliskan namanya pada secarik kertas, kemudian dimasukkan ke dalam kotak. Begitupun sebaliknya. Para pemuda yang hadir diwajibkan mengambil kertas di dalam kotak tersebut secara acak. Walhasil, wanita yang terpilih akan menjadi pasangan jejaka tersebut, hingga berujung pada kegiatan Lupercalia tahun depan.

Namun, seiring waktu sepenggal zaman dan kuatnya pengaruh Gereja Roma. Kehadiran acara perjodohan pun harus berujung di tiang gantung. Walau telah berlangsung cukup lama sekira 800 tahun tradisi luhur itu melekat sekaligus menjadi bagian yang tak bisa dipisahkan dari masyarakat kala itu. Pasalnya, pesta pora itu dinilai bertentangan dengan iman Kristen, bahkan termasuk golongan kafir.

Lagi-lagi setiap keadaan selalu hadir juru penyelamat bagi kaum lemah. Terlebih lagi, pada saat Kaisar Roma berada dalam genggaman Claudius II. Ia memberlakukan peraturan yang melarang orang-orang untuk menikah.

Tiba-tiba, seorang uskup dari Interamma bernama Valentine (270 SM) berani memulai kembali kebiasaan tersebut. Meski dalam prosesi kegiatanya jauh berbeda dengan tradisi Lupercalian sebelumnya. Sudah tentu, secara diam-diam uskup Valentine mengumpukan kaum muda-mudi yang saling “silang rasa” supaya dapat dinikahkan secara massal.

Di lain sisi, aktivitas Valentine itu sudah tercium oleh Kaisar. Sampai-sampai Ia murka terhadap sang Uskup.

Alhasil, hotel predeo pun harus menjadi pilihan sekaligus rumah yang tak bisa ditawar-tawar lagi. Tak hanya itu, ia bersama pengikutnya pula harus beribadah pada Dewa Romawi. Bila mereka enggal melaksanakan perintah penguasa, maka ia harus rela menangung akibatnya.

Kematian pun menjadi buah kegigihanya (14/02/269 M). (The World Book Encyclopedia, 1998) Walau sebelumnya Ia harus mendapatkan cacian, makian, bogem, lemparan batu di tiang penyanggah dan dipenggal secara sadis. Hingga nyawanya pun mesti lepas dari jiwa raganya.

Namun, berkat keimanan yang kuat dan tebaran kasih sayang di penghujung titik nadir Ia masih sempat berpesan kepada kaum hawa saat menyembuhkan mata seorang gadis dari kebutaanya. Sang Mesias menulis catatan kecil bertajuk ‘From Your Valentine’.

Semenjak itulah, ungkapan-ungkapan Valentine menjadi simbol hari kasih sayang. Hal ini terlihat dari Kebiasaan mengirim kartu Valentine. Meski tak ada kaitan langsung dengan St. Valentine. Pada 1415 M ketika the Duke of Orleans dipenjara di Tower of London, pada perayaan hari gereja mengenang St.Valentine 14 Februari, ia mengirim puisi kepada istrinya di Perancis. Kemudian Geoffrey Chaucer, penyair Inggris mengkaitkannya dengan musim kawin burung dalam puisinya (The Encyclopedia Britannica, Vol.12 hal.242 , The World Book Encyclopedia, 1998, Sinar Harapan 10/02/2003).

Secara bahasa ‘Valentine’ berasal dari Latin yang berarti : `Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuat dan Yang Maha Kuasa”. Kata ini ditujukan kepada Nimrod dan Lupercus, Tuhan orang Romawi. (www.korrnet.org)

Maraknya aksi prostitusi berkedok panti pijat dan menjamurnya kematian bocah tak berdosa akibat hubungan di luar nikah serta tak diterima kembali di kelurganya membuat sebagian muda-mudi lupa diri, bahkan terlelap dalam kegelamuran pesta tersebut.

Nyatanya, kehadiran hari kasih sayang malah melanggengkan budaya lalim. Sebab bisa berakibat patal bagi kaum hawa manakala terjadi perbuatan yang tak diinginkan. Ambail contoh hamil diluar nikah, penularan HIV/AIDS. Demikian penuturan dr Andik Wijaya SMSH, seorang Seksolog dari Surabaya. “Sekarang Valentine’s Day nuansanya cenderung romantis dan erotis,” tutur dr Andik. Ini bukan omong kosong lho. Salah satu faktor yang mensukseskan erotisme saat perayaan Valentine adalah makanan khas Valentine`s Day berupa coklat. Emang kenapa dengan coklat? Menurut dr Andik, coklat mengandung zat yang disebut Phenyletilamine atau zat yang bisa membangkitkan gairah seksual. Nah lho.

Bukti lain, lanjutnya, pergeseran makna Valentine‘s Day, di Inggris 14 Februari malah dicanangkan sebagai The National Impotence Day (hari impoten nasional) dengan tujuan meningkatkan kewaspadaan masyarakat terhadap ancaman impotensi 2 juta pria Inggris. Sedang di AS lebih parah lagi. 14 Februari ditetapkan sebagai The National Condom Week (pekan kondom nasional). “Maksudnya kampanye nasional penggunaan kondom, karena tiap perayaan Valentine‘s Day diikuti peningkatan kasus HIV/AIDS. Padahal tingkat kegagalan kondom mencapai 33,3 persen,” imbuh dr. Andik. (www.dudung.net)

Padahal, bangsa Indonesia sedang dirundung malang pelbagai musibah dengan silih berganti dan saling susul menyusul bencana. Gundukan sampah pun pasca musibah kembali meminta perhatian kita. Karena pengekspersian kasih sayang tak selamanya harus berpesta pora. Atau sekedar tukar menukar kado berupa cokelat, bunga, perhiasan, kaset/CD dan hadiah spesial lainya kepada pujaan hati.

Disadari atau tidak, perayaan dari budaya Barat ini pun telah diserap oleh orang-orang Indonesia. Sudah banyak orang Indonesia yang merayakannya dengan kebiasaan masing-masing. Bukankah membuang sampah pada tempatnya dan membersihkan tumpukan lumpur tidak termasuk dalam bingkai kasih sayang pada lingkungan sekitar? Entahlah [Ibn Ghifarie]

Dikirimkan oleh
ibnu
http://boelldzh.blogspot.com/

Penulis adalah Mahasiswa jurusan Studi Agama-Agama (Perbandingan Agama d/h)Fakultas Filsafat dan Teologi, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati (SGD) Bandung dan aktif di Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Lembaga Pengkajian Ilmu Keislaman (LPIK) sebagai Koord Post LPIK serta Koord Komunitas Mata Pena (KMP) Bandung.

Memang benar apa yang dituliskan, kasih sayang tidak harus berupa pergaulan tanpa batas. Ikatan pernikahan adalah cara yang paling baik untuk melindungi kasih sayang antar laki-laki dan perempuan

Iklan

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: