jump to navigation

Sepenggal Kisah dari Lampung 12 November 2010

Posted by vikikurdiansyah in cerita, diary-koe, hikmah, inspirasi, motivation.
trackback

Tidak ada alasan untuk bermalas-malasan. Tidak ada alasan pula untuk berpangku tangan dan tidak bekerja hanya karena alasan cacat fisik. Itulah yang dilakukan oleh seorang bapak penjual manisan buah dengan gerobak dorong di Bandar Lampung. Tak sempurna memang langkah kaki beliau karena kecelakaan lalu lintas beberapa tahun lalu. Ditambah dengan penyakit stoke yang dideritanya sehingga menyulitkan untuk berkomunikasi dengan pelanggan, tak menyurutkan semangat beliau untuk tetap berjualan. Demi istri yang diamanahkan beliau dan tiga anak yang harus meneruskan pendidikan, seakan beliau tak peduli dengan dirinya. Yang ada dibenaknya hanya kelangsungan hidup keluarganya dan anak-anak yang harus sukses ketimbang dirinya.

Perjuangan beliau selalu diawali tiap pagi. Setiap hari, beliau harus berjalan berkilo-kilometer menyusuri jalanan kota Lampung untuk menjajakan jualannya di tempat mangkal favoritnya di salah satu kampus di Bandar Lampung. Jalan raya yang beliau lewati merupakan jalur yang cukup ramai. Meski nyawa selalu terancam saat berangkat dan pulang berjualan dengan keramaian lalu lalang kendaraan bermotor, beliau seolah tak peduli. Beliau sudah melupakan kecelakaan yang menimpa beberapa tahun lalu. Beliau hanya ingin dagangannya habis oleh pelanggan yang selama ini kebanyakan para mahasiswa. Beliau hanya berbekal satu botol air minum yang disiapkan istri tercintanya. Beliau tak mau makan dari dagangannya meski haus dan lapar melanda.

Mungkin tak seberapa hasil yang  beliau dapat. Satu bungkus manisan buah yang dijualnya cukup 2000 rupiah. Harga yang murah bagi mahasiswa. Siang hari merupakan waktu yang sibuk bagi beliau. Pelanggan setia yang kebanyakan mahasiswa mulai menyerbu manisan buah beliau. Maklum suasana siang hari yang panas membuat tenggorokan ingin dapat yang manis-manis. Mahasiswa yang membeli manisan beliau tidak hanya ingin melepas dahaganya saja. Namun mereka merasa merasa kasihan dengan kondisi fisik beliau yang sudah tidak sempurna lagi harus berjuang berjualan jauh. Sendirian lagi.

Salah satu pribadi beliau yang menjadikan banyak orang kagum adalah beliau yang selalu menjaga kebersihan. Sampah bungkus manisan buah dari pelanggannya tak sebagian dimasukkan ke tempat sampah. Beliau yang selalu memungut dan mengumpulkan sampah-sampah bungkus manisan buahnya. Tapi tak hanya itu, beliau juga membersihkan sampah-sampah lainnya dan membuangnya ke keranjang sampah. Kesederhanaan dan jiwa juang beliau yang membuat orang di sekitarnya terinspirasi.

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: