jump to navigation

Pengusaha “haram” bermaksiat 2 April 2011

Posted by vikikurdiansyah in cerita, diary-koe, hikmah, inspirasi, motivation.
trackback

Perjalanan seorang pengusaha tidak boleh disisipi dengan perbuatan yang tidak baik, yang dilarang agama. Itulah pernyataan yang dituturkan oleh seorang teman baru yang saya temui di musholla Soekarno-Hatta Airport. Disela-sela menunggu boarding pass, saya berbincang-bincang dengan beliau.

Lebih dari lima tahun beliau menjalani usaha menjadi penjual pakaian di Pontianak. Beliau mempunyai beberapa cabang di kota yang berada tepat di garis khatulistiwa itu. Omset dari usahanya tersebut bisa dibilang lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan.Terlebih lagi beliau bisa membuka lapangan pekerjaan. Tidak hanya itu, di kota itu dia dipertemukan oleh wanita sholehah, cantik dan keturunan orang kaya. Kebahagiaan yang berlipat ganda.

Di tengah-tengah kesuksesannya, beliau dihadapkan dengan beberapa ujian hidup. Beliau mulai gemar berjudi, minum minuman keras hingga narkoba. Hari-hari dia isi dengan berhura-hura tanpa ada manfaat. Awalnya setiap kali dia bermain judi, dia selalu menang. Dicoba lagi masih menang juga. Semakin lama jumlah taruhannya semakin besar. Hingga suatu saat usahanya bangkrut karena uang dari hasil usaha beliau sudah habis untuk bermain judi. Akibat dari pertaruhannya itu, dia berubah menjadi orang yang tidak perduli dengan orang lain. Apalagi kerluarganya. Istri dan anak-anaknya tidak pernah “diurus” lagi. Hingga biduk rumah tangga yang selama ini dibangun, hancur dalam sekejap mata.

Guratan penyesalan yang tampak di wajahnya saat beliau bercerita tentang perjalanan hidupnya. Menyesal sejadi-jadinya. Beliau harus berjuang kembali menyusun “kerjaan” bisnisnya yang sudah hancur. Beliau rela pontang-panting mengumpulkan uang hanya sekedar merajut mimpinya kembali.

Yang menjadi pesan beliau sebelum kita berpisah, syukurilah apa yang sudah dianugrahkan Alloh kepada kita. JANGAN pernah menggabungkan antara kebaikan dengan keburukan. JANGAN pernah di satu sisi kita bekerja mendapatkan uang untuk memenuhi kebutuhan kita dan keluarga. Namun di sisi lain kita berbuat maksiat kepada Alloh dan diri kita sendiri. Jika itu dilakukan, PASTI kita akan hancur.

Iklan

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: