jump to navigation

Sholat bukan “oleh-oleh” isra’ dan mi’raj 22 Juni 2011

Posted by vikikurdiansyah in hikmah, islam, motivation, tauziyah.
trackback

Kata sholat, isra dan mi’raj sudah sangat familiar didengungkan di gendang telinga kaum muslim. Setiap tahun pun dirayakan. Bahkan saat masih di Taman Kanak-kanak pun definisi dari ketiganya pun sudah sering diperdengarkan.

Dalam sirohnya, Rosul saw harus melakukan perjalanan yang sangat amat jauh dalam waktu singkat. Dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqso dan dilanjutkan ke Sidrotul Muntaha dalam satu malam. Malaikat Jibril hanya diizinkan mengantar Rosul saw mulai dari Masjidil Haram hingga langit ketujuh. Selebihnya Jibril tidak diperkenankan masuk ke area di atasnya. Hanya Rosul saw yang izinkan untuk bertemu Alloh secara langsung. Saat Rosulullah melakukan mi’raj, beliau diperlihatkan oleh Alloh tentang keindahan surga dan kepedihan neraka.

Momen yang paling fenomenal saat mi’roj adalah dititahkannya perintah sholat secara langsung. Ini merupakan satu-satunya perintah ibadah yang dititahkan oleh Alloh secara langsung kepada Rosul saw. Sang Jibril pun yang biasanya menyampaikan wahyu kepada Rosul saw tidak diberi wewenang oleh Alloh untuk menyampaikan perintah shalat. Dari peristiwa isra dan mi’raj menandakan bahwa sholat adalah perintah yang sangat penting dan agung.

Sholat : amanah terbesar dan parameter kemusliman dan keberimanan.

Sholat bukan sekedar mengerjakan sebagai penggugur kewajiban. Sholat bukan hanya sekedar gerakan fisik. Sholat tidak seperti ‘ayam yang mematok-matok beras’. Namun, sholat merupakan kolaborasi aktivitas hati, jiwa, pikiran, lidah hingga fisik. Sholat harus dilaksanakan dengan tenang. Bahasa kerennya tuma’ninah.

Amal yang pertama kali dihisab ketika ruh kita tidak lagi menempel di jasad adalah amal sholat. Yang membedakan kualitas muslim satu dengan muslim yang lain terletak dari bagaimana dia mendirikan sholat. Tidak sekedar mengerjakan.

Kualitas sholat pun menentukan kualitas akhlaq seseorang. Sholat mencegah dari perbuatan keji dan munkar. Begitu kata sebuah firman Alloh di al qur’an. Namun sepertinya firman tersebut tidak sepenuhnya muncul ke permukaan. Banyak kaum muslim yang sholat, tapi banyak juga yang berbuat maksiat. Minum miras, narkoba, selingkuh, perampokan hingga pembunuhan. Yang paling ngeri adalah perilaku korupsi yang dilakukan oleh sebagian kaum muslim yang ada di pemerintahan. Mungkin mereka dari sisi fisik melakukan sholat, tapi dari hati, jiwa dan pikirannya tidak ikut sholat.

Belum lagi persoalan melalaikan sholat. Ini yang sering kebanyakan saya temui. Sholat ntar aja kalo pas injury time. Ingin masuk surga, tapi sholat kok dilalaikan. Orang yang lalai aja masuk neraka. Apalagi yang tidak sholat.

***

Kalau ingin dievaluasi komitmen untuk beriman dan berislam, masih banyak kekurangan. Banyak sekali. Bertanyalah pada hati kecil kita yang paling dalam. Sebenarnya niat gak sih kita berislam. Bilang niat tapi kok gak terbukti. Apa yang salah dari niat kita. Mungkin benar adanya salah satu firman Alloh di surat Al Ahzab yang menyebutkan bahwa manusia adalah makhluk yang bodoh dan dzolim. Gunung dan lautan menolak amanah yang Alloh berikan. Namun manusia menerima begitu saja.

Mari kita bersama-sama memperbaiki dan memperbanyak ilmu dan meluruskan niat. Mari kita mendirikan sholat. Bukan mengerjakan sholat. Perbaiki diri kita dan orang-orang di sekitar kita untuk membuktikan bahwa sholat dapat mencegah perbuatan keji dan munkar. Mati fastabiqul khoirot.

Iklan

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: